DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).
Tampilkan postingan dengan label ABMM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABMM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juli 2012

ABM Konversi Utang Menjadi Saham


INILAH.COM, Jakarta - PT ABM Investama Tbk (ABMM) memberikan fasilitas pinjaman kepada anak usaha perseroan dengan total Rp558,68 miliar yang dikonversikan menjadi saham pada anak perusahaan.

Konversi utang menjadi saham dilakukan untuk memperbaiki struktur permodalan di anak perusahaan. Hal itu dilakukan agar permodalan di anak usaha menjadi lebih kuat dengan melakukan konversi atas seluruh ataupun sebagian dari pinjaman pemegang saham menjadi tambahan setoran modal.

"Dengan struktur permodalan yang lebih kuat dan sehat diharapkan dapat memperluas peluang bagi anak usaha untuk melakukan ekspansi usaha," ujar Direktur ABMM Syahnan Poerba dalam keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/7/2012).

Transaksi tersebut telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dilakukan pada 29 Juni 2012. Saat ini konversi utang menjadi saham tersebut masih dalam proses pendaftaran Menteri Hukum. Adapun transaksi konversi utang menjadi saham tersebut dilakukan perseroan dengan PT Resawara Minegi Hartama (Reswara), PT Cipta Krida Bahari (CKB), PT Sanggaran Sarana Baja (SSB), dan PT Sumberdaya Sewatama (SS).

Transaksi antara perseroan dan SSB dengan nilai transaksi mencapai Rp100 miliar merupakan konversi seluruh hutang menjadi saham dan tambahan penyertaan saham oleh Perseroan di SSB. SSB adalah anak perusahaan dengan jumlah kepemilikan saham sebelum transaksi sebesar 99,95.

Kedua, transaksi konversi sebagian hutang menjadi saham antara Perseroan dan CKB dengan nilai transaksi mencapai Rp50 miliar dari total pinhaman sebesar Rp108,38 miliar. Ketiga, transaksi konversi sebagian utang menjadi saham antara perseroan dengan Reswara senilai Rp358,68 miliar dari total pinjaman sebesar Rp806,41 miliar. Keempat, transaksi konversi sebagian utang menjadi saham antara perseroan dan SS senilai Rp50 miliar dari total pinjaman senilai Rp185,32 miliar. [ast]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1878776/abm-konversi-utang-menjadi-saham

Minggu, 10 Juni 2012

Danai capex, ABMM lirik opsi penerbitan obligasi


JAKARTA. Guna mendanai belanja modal 2012 sebesar US$ 335 juta, PT ABM Investama Tbk (ABMM) tengah menggodok opsi obligasi. "Untuk pendanaan memang ada beberapa opsi, seperti pinjaman perbankan dan juga obligasi," kata Sekretaris Perusahaan ABMM Ade Satari saat dijumpai di Jakarta, akhir pekan lalu.

Belanja modal tersebut akan digunakan perseroan untuk membiayai operasional anak usaha ABMM. Jika dirinci, alokasi belanja modal tersebut antara lain digunakan untuk penambangan batubara sebesar US$ 62 juta, unit usaha kontraktor sekira US$ 129 juta, kelistrikan US$ 73 juta, logistik US$ 19 juta, dan sisanya untuk perusahaan.

Sayangnya, Ade enggan mengungkapkan lebih lanjut mengenai berapa dana yang diincar jika perusahaannya mengeluarkan obligasi. Yang jelas semua pendanaan ini bergantung pula pada keberhasilan ABMM dalam mengakuisisi beberapa pembangkit listrik atau powerplant.

Sekadar informasi, anak usaha group Trakindo ini berniat mengakuisisi dua powerplant. Pertama, pembangkit listrik mulut tambang di Aceh dengan nilai akuisisi mencapai US$ 9 juta untuk seluruh kepemilikannya. Kedua, powerplant di Jambi dengan kapasitas 110 MW yang nilainya US$ 85 juta untuk 100% kepemilikan saham. "Tapi di Jambi kami tidak ambil seluruhnya, hanya mau jadi mayoritas saja," tambah Ade.

Nah, jika berhasil melakukan seluruh akuisisi, dana segar yang dibutuhkan ABMM pun cukup besar. Jika sebelumnya manajemen perusahaan sempat menginginkan melakukan pinjaman sebesar 70% dari kebutuhan dana, maka kali ini ABMM pun melirik obligasi sebagai salah satu pendanaan. Sebenarnya untuk pinjaman fasilitas perbankan, ABMM sempat mengaku didekati beberapa perbankan asing dan lokal seperti DBS, Bank Mandiri, ANZ, Standard Chartered.

Rabu, 06 Juni 2012

Reswara Raih Kontrak Penjualan Batubara dari China


IMQ, Jakarta —  Anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM), PT Reswara Minergi Hartama (Reswara) meraih kontrak penjualan batubara sebesar 500 ribu metrik ton dari Guangzhou Huaneng Trading Co. Ltd untuk periode pengiriman yang direncanakan pada bulan Juni hingga Desember 2012.

Presiden Direktur Reswara, Harry Asmar mengatakan kontrak dengan Guangzhou Huaneng Trading Co. Ltd adalah kontrak keempat perseroan pada 2012.

“Batubara ini diproduksi oleh PT Tunas Inti Abadi (TIA), anak usaha Reswara dari wilayah konsesi di Kalimantan Selatan dengan nama dagang TIA Compliant Coal (TCC),” katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (6/6).

Guangzhou Huaneng Trading Co. Ltd adalah perusahaan pengimpor batubara dari Indonesia ke Cina sejak 2010, seiring dengan pertumbuhan permintaan batubara di Cina.

Batubara dari kontrak penjualan dengan Reswara akan digunakan untuk memasok kebutuhan dua perusahaan pembangkit listrik di daerah Guangdong, Cina.

Harry menambahkan dengan raihan kontrak ini, Reswara berhasil mengamankan empat kontrak penjualan batubara sebesar 3,8 juta metrik ton atau 68% dari total target penjualan perusahaan untuk 2012 sebesar 5,5 juta metrik ton.

“Perseroan sangat gembira dapat mengamankan target penjualan hingga 68% di pertengahan tahun ini, ditengah melambatnya permintaan batu bara dalam beberapa bulan terakhir,” jelasnya.

Meskipun demikian lanjut Harry, pihaknya tetap optimis dalam jangka panjang permintaan akan tetap menunjukkan tren positif karena kebutuhan batubara sebagai pengganti minyak bumi.

http://www.imq21.com/news/read/69381/20120606/150442/Reswara-Raih-Kontrak-Penjualan-Batubara-dari-China.html

Selasa, 05 Juni 2012

Anak usaha ABMM raih kontrak ke China


JAKARTA. Anak usaha PT ABM Investama (ABMM) yaitu PT Reswara Minergi Hartama (Reswara) berhasil mengamankan kontrak penjualan batubara sebesar 500.000 metrik ton dengan Guangzhou Huaneng Trading Co., Ltd untuk periode pengiriman Juni-Desember 2012.
Guangzhou Huaneng Trading Co., Ltd. adalah perusahaan pengimpor batubara dari Indonesia ke China sejak 2010. Rencananya batubara dari kontrak penjualan dengan Reswara akan digunakan untuk memasok kebutuhan dua perusahaan pembangkit listrik di daerah Guangdong, China. Dalam keterangan pers yang diterima Kontan Rabu (6/6), penandatanganan kontrak itu dilakukan Senin (4/6) di Bali.
Kontrak dengan Guangzhou Huaneng Trading Co., Ltd. adalah kontrak keempat Reswara di 2012. Batubara diproduksi oleh TIA dari wilayah konsesi di Kalimantan Selatan dengan nama dagang TIA Compliant Coal (TCC). Nah, dengan kontrak ini anak usaha ABMM ini telah mengamankan 3,8 juta metrik ton atau sekitar 68% dari total target penjualan perusahaan untuk 2012 sebesar 5,5 juta metrik ton.
“Kami sangat gembira dapat mengamankan target penjualan hingga 68% di pertengahan tahun ini, di tengah melambatnya permintaan batubara dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun demikian, kami tetap optimis dalam jangka panjang permintaan batubara akan tetap menunjukkan tren positif karena kebutuhan batubara sebagai pengganti minyak bumi akan semakin meningkat,” ujar Presiden Direktur Reswara Minergi Hartama Harry Asmar.

Menurutnya, fokus usaha tahun ini adalah untuk memastikan rencana pengembangan usaha berjalan sesuai rencana, baik untuk pemantapan operational excellence di TIA serta mulainya pembangunan infrastruktur MDB di Aceh.

“Dengan target peningkatan produksi dari tahun ke tahun serta lokasi pertambangan kami yang relatif dekat dengan pelabuhan, kami optimis Reswara akan menjadi salah satu pemasok batu bara berkalori rendah yang paling diminati oleh eksportir Asia,” ujarnya yakin.

Kamis, 31 Mei 2012

Dukung Modal, Laba ABMM Rp415,7 M Tak Jadi Dividen


INILAH.COM, Jakarta - Hasil Rapat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT ABM Investama Tbk (ABMM) memutuskan menyetujui tidak membagikan dividen 2011. ABM mencatat laba bersih sebesar Rp415,74 miliar.

Dividen 2011 akan digunakan untuk pengembangan usaha perseroan termasuk permodalan anak usaha. Laba bersih 2011 akan digunakan sebagai cadangan senilai Rp1 miliar dan sisanya sebesar Rp414,74 miliar dicatat dalam akun saldo laba. Perseroan akan mulai membagikan dividen dari laba bersih tahun buku 2012.

"Dengan laba bersih digunakan untuk memperkuat bisnis semua anak perusahaan, struktur permodalan dan kas internal Perseroan maka perseroan mendapat keleluasaan pendanaan untuk menyokong ekspansi bisnis anak usaha dan meningkatkan pertumbnuhan pendapatan ABMM pada 2012," tutur Presiden Direktur PT ABM Investama Tbk, Andi Djajanegara, Kamis (31/5/2012).

Selain itu, manajemen ABMM juga memberikan laporan penggunaan dana hasil penawaran umum saham perdana sebesar Rp1,48 triliun. Sesuai dengan prospektus, dana tersebut akan dialokasikan untuk pembiayaan ekspansi usaha 70% persen, pengembalian pinjaman perseroan 24% dan sisanya 6% untuk modal kerja.

Per 31 Maret 2012, dana IPO yang telah digunakan adalah sebesar Rp 558 miliar atau setara 38% dari perolehan dana IPO pada Desember 2011 lalu. Dana tersebut digunakan untuk ekspansi, refinancing dan modal kerja.

Sepanjang tahun 2011, ABM mencatat laba bersih sebesar Rp415,74 miliar. Lonjakan pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan sebesar 47,70% atau Rp6,62 triliun pada tahun 2011, dibandingkan pencapaian pada periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp4,48 triliun. [hid]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1867095/dukung-modal-laba-abmm-rp4157-m-tak-jadi-dividen

Selasa, 15 Mei 2012

ABM Investama Jual Batu Bara ke China dan Thailand

INILAH.COM, Jakarta - PT ABM Investama Tbk (ABMM) melalui anak usahanya Reswara Minergi Hartama (Reswara) menjual batu bara sebesar 360.000 metrik ton ke China dan Thailand.

Penjualan tersebut dilakukan melalui kemitraan dengan perusahaan trading batu bara Coeclerici Group (Coeclerici). Penandatanganan kontrak yang dilakukan Jumat lalu (11/5) di Singapura, ditandatangani oleh Presiden Direktur Reswara, Harry Asmar dan Direktur Coeclerici, Urbano Clerici serta dihadiri oleh Direktur PT Tunas Inti Abadi, Feriwan Sinatra.

Batu bara ini akan digunakan untuk memasok pembangkit listrik (power plant) di China dan Thailand. Hal ini seiring dengan semakin meningkatnya permintaan akan listrik dan energi di negara ini.

Coeclerici merupakan operator internasional dalam memberikan jasa yang terintergrasi dan inovatif dalam menjawab kebutuhan dalam industri listrik dan besi baja. Kontrak kedua dengan Coeclerici ini akan memperkuat hubungan kerjasama antara kedua pihak sebagai mitra strategis. Sebelumnya dilakukan kontrak penjualan batubara sebesar 150.000 MT untuk periode Oktober hingga Desember 2011 untuk memasok kebutuhan di China.

“Ini merupakan kontrak penjualan ketiga dari bisnis batu bara kami di tahun ini. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan batu bara terutama di Asia, kami sangat optimis dengan pencapaian target penjualan Reswara di tahun 2012,” ungkap Presiden Direktur ABM Investama, Andi Djajanegara. [hid]