DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).

Senin, 02 Juli 2012

Defisit perdagangan makin mengkhawatirkan


JAKARTA. Dampak liberalisasi perdagangan terus memukul neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dalam dua bulan terakhir yakni April dan Mei, nilai ekspor Indonesia jauh lebih kecil ketimbang angka impor.
BPS mencatat, impor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2012 melonjak hingga 17% jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Adapun nilai ekspor hanya naik 1,5%.
Timpangnya angka ini akibat impor Indonesia lebih banyak ketimbang negara mitra dagang. Antara lain dengan China, Thailand, Jepang, Korea Selatan serta Singapura (Lihat: Neraca Perdagangan 2012 Terus Memerah). "Defisit perdagangan Indonesia dengan Thailand semisal, ini karena kita impor mobil, dan gula," tandas Suryamin, Kepala BPS, Senin (2/7).
Adapun dengan China, Indonesia masih banyak mengimpor mesin dan peralatan dari China. Sementara dengan Jepang, Indonesia banyak mengimpor mobil mewah. Hal ini terpicu perjanjian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement yang menghilangkan semua sumbatan impor.
Tak hanya itu saja. Melesatnya angka impor juga karena kenaikan impor minyak yang sangat besar. Sepanjang Januari - Mei 2012, nilainya mencapai US$ 9,7 miliar. Penjualan kendaraan bermotor yang tinggi menaikkan penggunaan bahan bakar minyak.
Adapun Indonesia hanya pasrah dengan penyusutan angka ekspor lantaran harga dan permintaan komoditas terus menurun. Padahal, ekspor komoditas mengambil porsi hingga 40% dari total ekspor Indonesia.
Dengan kondisi seperti ini, Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto berharap, pemerintah memberi perhatian serius agar defisit neraca perdagangan tak terus berlanjut. Jika kondisi ini terus berlanjut, ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih memprediksi defisit neraca perdagangan ke depan bakal makin lebar.
Ini bisa berbahaya bagi daya tahan ekonomi Indonesia. Rupiah bisa terus anjlok sementara modal intervensi tidak ada karena minimnya pemasukan devisa.
Meski begitu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro memandang, defisit perdagangan masih di level aman. "Persentase defisit masih belum melampaui 3% dari produk domestik bruto (PDB)," ujar Bambang.
Namun harus diakui, upaya pemerintah memperketat masuknya barang impor dengan berbagai aturan belum mampu membendung laju impor.
Kini, pemerintah berupaya dengan terus menggenjot arus modal masuk ke Indonesia agar terus membesar. Dengan begitu, "Capital account yang positif bisa menutup current account yang negatif," harap Bambang. Bila berhasil, cadangan devisa Indonesia tidak akan terkuras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar