JAKARTA. Seperti perkiraan sebelumnya, neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II 2012 mencatatkan defisit yang lebih besar ketimbang kuartal I 2012. Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit NPI pada kuartal II 2012 sebesar US$ 2,8 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo mengatakan kuatnya permintaan domestik di tengah pelemahan ekonomi global berimbas pada kinerja eksternal ekonomi Indonesia. Buktinya, defisit transaksi berjalan pada kuartal II melebar menjadi US$ 6,9 miliar (3,1% dari PDB). Angka ini lebih tinggi ketimbang defisit pada kuartal I 2012 yang sebesar US$ 3,2 miliar.
Sebenarnya, pada kuartal II 2012 terjadi kenaikan surplus neraca modal dan finansial yang cukup tajam. BI mencatat surplus neraca modal dan finansial pada kuartal II 2012 sebesar US$ 5,5 miliar, meningkat lebih dari dua kali lipat ketimbang kuartal I 2012 yang sebesar US$ 2,5 miliar. “Tapi secara keseluruhan, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan, sehingga pada kuartal II 2012 NPI mengalami defisit US$ 2,8 miliar," kata Dody seperti yang dikutip dari siaran persnya Jumat (10/8).
Dody menuturkan, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2012 dipicu oleh surplus neraca perdagangan yang terus menciut sehingga tak bisa mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar. Seperti diketahui, surplus neraca barang pada kuartal II 2012 hanya sebesar US$ 1,56 miliar. Sementara defisit neraca jasa mencapai US$ 2,88 miliar.
Penurunan surplus neraca barang dipicu oleh melorotnya kinerja ekspor akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global. Di sisi lain, Dody bilang laju impor barang modal dan bahan baku masih kuat. Di sisi neraca jasa, kenaikan defisit disebabkan karena naiknya pembayaran jasa transportasi barang impor dan peningkatan jumlah warga negara Indonesia yang pergi ke luar negeri.
Sementara itu, neraca pendapatan juga mencatatkan defisit US$ 6,4 miliar. "Ini terjadi karena laba dan bunga yang diperoleh investor asing atas investasi mereka di dalam negeri meningkat seiring dengan nilai investasinya yang terus bertambah," ungkap Dody.
Di sisi lain, tingginya kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia membuat arus modal asing cukup deras membanjiri Indonesia. Hal ini membuat transaksi modal dan finansial mencatatkan surplus US$ 5,5 miliar. Kenaikan modal ini terjadi dalam bentuk investasi langsung, portofolio, maupun penarikan utang luar negeri swasta. Sayangnya, surplus transaksi modal tak mampu mengompensasi defisit neraca perdagangan.
Meski begitu, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan bakal menurun ke sekitar 2% dari PDB pada paruh kedua tahun ini. Sehingga, NPI secara keseluruhan akan kembali mencatat surplus. "Penurunan ekspor diperkirakan akan lebih kecil pada kuartal III sebelum kembali tumbuh positif pada kuartal IV-2012. Sementara pertumbuhan impor diperkirakan akan lebih rendah pada keseluruhan paruh kedua 2012," kata Dody.
Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan, impor barang modal dan bahan baku penolong memang tidak bisa terhindarkan. Hanya saja, ia yakin nantinya barang modal ini pada waktunya bakal menghasilkan barang jadi.
Menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga agar ekspor tidak terlalu jatuh. Caranya, dengan membuka pasar baru dan juga mengeluarkan kebijakan agar ekspor bisa lebih lancar. "Kita juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar investasi dilakukan dengan porsi untuk bisa melakukan ekspor. Sehingga neraca perdagangan kita bisa lebih terkendali," kata Agus Jumat (10/8).
Sebelumnya, Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistyaningsih memperkirakan defisit NPI pada kuartal II tahun ini bakal lebih besar ketimbang kuartal I 2012. Pasalnya, dari sisi transaksi berjalan, defisitnya bakal lebih besar akibat pelebaran defisit neraca perdagangan.
Lana memperkirakan neraca pembayaran Indonesia pada kuartal II tahun ini bakal defisit lebih dari US$ 2,5 miliar, atau bahkan bakal menyentuh level US$ 3 miliar.
http://nasional.kontan.co.id/news/neraca-pembayaran-indonesia-defisit-us-28-miliar
DISCLAIMER
This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 11 Agustus 2012
Selasa, 07 Agustus 2012
Goldman Sachs’s MIST Topping BRICs As Smaller Markets Outperform
Jim O’Neill ushered in a decade-long investment boom in 2001 when he coined the term BRICsfor the largest emerging markets. This year, a lesser-known acronym that the Goldman Sachs Asset Management chairman is helping to popularize has taken over for many investors.
Goldman Sachs Asset Management Chairman Jim O'Neill. Photographer: Thomas Lee/Bloomberg
The so-called MIST nations -- Mexico, Indonesia, South Korea and Turkey -- are the four biggest markets in the Goldman Sachs N-11 Equity Fund. (GSYAX) Opened in February, 2011 to invest in what O’Neill considers the next big 11 emerging markets, the fund has climbed 12 percent this year, compared with a 1.5 percent gain in Goldman Sachs’s fund for Brazil, Russia, India and China.
“We see steady inflows into the Next 11 fund each week,” O’Neill, 55, said in a phone interview from London. “It hasn’t been affected by the disappointment in the U.S. and obviously the European markets especially, and all the disappointment in some of the BRIC markets.”
O’Neill said he came up with the idea for an N-11 fund on a trip to China and South Korea two years ago as a way to help investors benefit from growth beyond the BRIC nations that had dominated emerging markets investing. With populations that for the most part are younger than the U.S. and Europe and have higher birth rates, fueling economic expansion, the N-11 nations are emerging from the shadow of the BRICs, where growth is slowing and investors are pulling out funds.
Outpacing BRIC
The MIST economies more than doubled in size in the past decade, topping Germany last year. In Mexico, Latin America’s second-biggest economy, record auto exports are helping growth outpace Brazil’s for a second year amid waning Chinese demand for the South American nation’s commodities. Indonesia’s domestic spending and investment helped the nation’s economic growth accelerate to 6.37 percent in the second quarter, surprising economists who forecast a slowdown.
Besides the MIST nations, the N-11 countries include Bangladesh, Egypt, Nigeria, Pakistan, the Philippines and Vietnam. Iran is also a member, though Goldman Sachs says its fund doesn’t invest in Iran because it isn’t an open market for foreign investors. The nation is subject to sanctions imposed by the U.S. and European Union over its nuclear program.
Goldman Sachs’s N-11 fund has beaten 93 percent of U.S.- based emerging-market equity funds this year, while the BRIC fund has lagged 89 percent of them, according to data compiled by Bloomberg. The N-11 fund has still trailed its benchmark, the MSCI GDP Weighted Next 11 ex-Iran Index, which has climbed 17 percent this year. The MSCI BRIC Index (MXBRIC) has risen 1.7 percent this year, more than the 1.5 percent gain for the Goldman Sachs BRIC fund.
Fuelling Growth
While outperforming them in growth this year, the MIST nations don’t approach the BRICs in economic output or population. Total GDP for the MIST nations was $3.9 trillion last year, less than one third of the $13.5 trillion BRIC economies and compared with $7.3 trillion for China alone, according to data compiled by Bloomberg. In population, the MIST nations have fewer than 500 million people, compared with about 2.9 billion in the BRIC nations.
Goldman Sachs’s N-11 fund had $113 million in assets and was invested in 73 stocks at the end of the second quarter, while the New York-based bank’s BRIC fund had $410 million in assets and held 72 stocks.
While O’Neill isn’t involved in either fund’s management, they were built to capture economic growth in the nations he identified as likely to make the greatest increased contribution to global GDP. The MIST nations accounted for about 73 percent of N-11 GDP last year, according to data compiled by Bloomberg.
Paying Off
The investment strategy is paying off. Mexico’s benchmark IPC Index (MEXBOL) has climbed 11 percent this year, compared with a 2.8 percent gain in Brazil’s Bovespa. (IBOV) Turkey’s ISE National 100 Index (XU100) has surged 28 percent and Indonesia’s Jakarta Composite Index (JCI) has gained 7.4 percent, while South Korea’s Kospi (KOSPI) has increased 3.3 percent.
The BSE India Sensitive Index (SENSEX) is the best-performing among BRICs equity benchmarks, increasing 13 percent, compared with a 2.6 percent gain in Russia’s Micex Index (INDEXCF) and a 2 percent drop in the Shanghai Composite Index. (SHCOMP) By comparison, the Standard & Poor’s 500 Index (SPX) is up 11 percent this year, while the Stoxx Europe 600 Index (SXXP) has climbed 9.1 percent.
“You’ve seen a rotation in the leadership based on rate of economic growth,” said Paul Christopher, the St. Louis-based chief international strategist at Wells Fargo Advisors, the third-largest U.S. brokerage with $1.2 trillion in client assets. “If you go back as far as just 2009, you’ll find people buying the BRIC story in a big way, and probably over-buying the BRIC story.”
Pouring in Money
Investors poured about $67 billion into BRIC stocks from 2001 to 2010 as they beat the S&P 500 by 281 percentage points. They withdrew about $15 billion last year, the most on an annual basis since at least 1996, according to Cambridge, Massachusetts-based research firm EPFR Global.
Still, equity funds investing in the MIST nations haven’t been immune from global growth concern. While investors added a net $104 million to funds focused on Turkey and $123 million to Indonesian funds this year through Aug. 1, they withdrew $1.33 billion from South Korea and $115 million from Mexico, EPFR says.
The MIST nations each account for at least 1 percent of global GDP and are likely to see that share increase this decade, O’Neill said. Of the four countries, O’Neill said Mexico and Turkey are the most attractive at the moment.
Low-Cost
Mexico is increasingly competing with China for manufacturing as costs climb in the Asian nation, O’Neill said. Mexico’s economy grew 4.6 percent in the first three months of 2012, the fastest pace in six quarters, on increased shipments to the U.S. America Movil SAB (AMXL), the wireless carrier controlled by billionaire Carlos Slim, the world’s richest person according to theBloomberg Billionaires Index, was the top holding in the N-11 fund at 7.9 percent at the end of June.
Brazil, which grew at an average 3.7 percent annual rate from 2000 through 2010, trumping Mexico’s 2.1 percent expansion, is forecast to grow less than 3 percent for a second straight year in 2012, according to the median estimate of analysts surveyed by Bloomberg.
Wells Fargo’s Christopher advised investors to sell stocks in the BRIC nations at points in the first half of the year and recommends buying equities in Indonesia, where economic growth hasexceeded 6 percent for seven quarters. Plans by the government in Southeast Asia’s largest economy to build railways, airports and seaports to bind its islands closer together are helping to counter a slowdown in European demand for commodities exports.
Christopher also recommends buying stocks in South Korea, which he says will benefit from rising exports as China’s domestic spending climbs.
Credit Rating
Fitch Ratings and Moody’s Investors Service have raised Indonesia’s debt to investment grade in the past eight months, with Fitch increasing it to BBB- in December and Moody’s lifting it to Baa3 in January.
The credit outlook in India is moving in the opposite direction. India’s economy grew 5.3 percent in the first quarter, the least in nine years, and S&P warns that the country may be downgraded unless growth picks up and political roadblocks to decision-making are overcome. A blackout left 640 million people in India without light on July 31, a day after a separate power cut left 360 million people without electricity.
India is suffering from “an absence of effective leadership,” O’Neill said. “India always is very proud of the fact it’s the biggest democracy in the world, but as I frequently joke with them, India’s democracy is so good that it doesn’t work.”
A phone call to the Indian embassy in Washington seeking comment wasn’t immediately returned.
Open Economies
With the exception of China, all the MIST nations ranked higher on the Geneva-based World Economic Forum’s 2012 trade openness index than the BRIC countries. While South Korea was ranked 34 out of 132 and Indonesia 58th, Russia trailed in position 112 and India at 100.
Turkish stocks have rallied after the government cut its fiscal deficit to 1.3 percent of GDP last year from 3.6 percent in 2010, garnering a credit rating upgrade by Moody’s on June 20 to Ba1, one level below investment grade.
Russia’s $1.8 trillion economy, after unexpectedly accelerating in the first quarter, is feeling the squeeze from oil prices that plunged as much as 22 percent this year. The price of crude pared its losses in July and is now down 6.7 percent since the end of December. Russia relies on oil and gas exports for half of its budget revenue.
Russia’s Economy
Former finance minister Alexei Kudrin said on May 24 that Russia’s economy has a 50 percent chance of slipping into recession due to the crisis in Europe, the buyer of more than half its exports. Russia’s gross domestic product may grow as much as 4 percent this year, more than the government’s previous projection of 3.4 percent, Economy Minister Andrei Belousov said on July 20.
While O’Neill includes South Korea in the MIST grouping, the nation differs from the other three in demographics, development and wealth. Known as one of the Asian Tigers as it grew an average 9 percent from the 1970s until the Asian financial crisis in 1997, South Korea will expand 2.9 percent this year, according to the median estimate of analysts surveyed by Bloomberg.
Aging Society
South Korea lacks the youth that O’Neill says will help drive growth in the other MIST nations. Only about 16 percent of South Korea’s population is under the age of 15, compared with at least 25 percent in Mexico, Indonesia and Turkey, according to estimates by the New York-based United Nations.
South Korea “happens to be the only populated country that in my lifetime has transformed its income from that of an African country to being that of a G-7 country,” O’Neill said. “It’s an example that all these other countries can learn from.”
The MIST nations may not outperform the BRICs for long, especially now that China’s government is stepping in to prime the economy, O’Neill said. Moreover, the Shanghai Composite’s decline has left it valued at 9.6 times estimated profit, compared with the three-year average of 14.7. The MSCI BRIC Index trades for about 9 times estimated profit, compared with 13.5 times for the S&P 500, data compiled by Bloomberg show.
Economic Weight
The recent underperformance in BRIC equities isn’t reason to give up on the long-term potential of economies that grew at an average pace four times faster than the U.S. from 2001 through 2010, O’Neill said. He forecasts that the BRIC nations will grow an average of about 6.5 percent a year through 2020, compared with 5.5 percent for the N-11 group.
O’Neill says he has three times turned down requests from Goldman Sachs salespeople to start a fund focused only on the MIST countries, and not only for economic reasons.
“You get very large exposure to them in the N-11 fund,” O’Neill said. “I’m also quite cognizant of not going down in history as being the guy that just constantly created acronyms.”
To contact the reporter on this story: Eric Martin in Mexico City at emartin21@bloomberg.net.
To contact the editor responsible for this story: Joshua Goodman atjgoodman19@bloomberg.net.
Senin, 06 Agustus 2012
Ekonomi kuartal II tumbuh 6,4%, Menkeu masih cemas
JAKARTA. Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo masih khawatir kendati pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tumbuh sebesar 6,4%. Dia beralasan, kondisi perekonomian dunia masih belum menentu.
Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan, angka pertumbuhan ekonomi kuartal kedua sebesar 6,4%. Angka ini lebih tinggi ketimbang kuartal pertama yang sebesar 6,3%.
“Saya hanya bisa mengatakan kalau pertumbuhan di kuartal III nanti bisa lebih baik dari kuartal I. Itu artinya kita masih beruntung,” kata Agus di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum Senin (6/8).
Agus menilai, kinerja perdagangan Indonesia sedang turun. Selain itu, negara- negara berkembang termasuk China dan India sudah mulai terkena pengaruh krisis ekonomi Eropa. “Yang bisa kami lakukan hanya meneruskan konsolidasi untuk pertumbuhan ke depan,” kata Agus.
Agus mencatat, angka pertumbuhan ekonomi sampai kuartal kedua disebabkan oleh masih pertumbuhan investasi sampai dengan saat ini. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sampai dengan semester I kemarin saja realisasi investasi yang masuk sudah mencapai Rp 148,1 triliun atau mencapai 52% dari target pada tahun 2012 ini sebesar Rp 385,5 triliun.
Faktor lain adalah membaiknya penyerapan belanja pemerintah. Sampai dengan semester pertama lalu, realisasi belanja anggaran pemerintah sudah mencapai 40,7% dari total pagu anggaran sebesar Rp 1.548 triliun.
http://nasional.kontan.co.id/news/ekonomi-kuartal-ii-tumbuh-64-menkeu-masih-cemas
Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan, angka pertumbuhan ekonomi kuartal kedua sebesar 6,4%. Angka ini lebih tinggi ketimbang kuartal pertama yang sebesar 6,3%.
“Saya hanya bisa mengatakan kalau pertumbuhan di kuartal III nanti bisa lebih baik dari kuartal I. Itu artinya kita masih beruntung,” kata Agus di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum Senin (6/8).
Agus menilai, kinerja perdagangan Indonesia sedang turun. Selain itu, negara- negara berkembang termasuk China dan India sudah mulai terkena pengaruh krisis ekonomi Eropa. “Yang bisa kami lakukan hanya meneruskan konsolidasi untuk pertumbuhan ke depan,” kata Agus.
Agus mencatat, angka pertumbuhan ekonomi sampai kuartal kedua disebabkan oleh masih pertumbuhan investasi sampai dengan saat ini. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sampai dengan semester I kemarin saja realisasi investasi yang masuk sudah mencapai Rp 148,1 triliun atau mencapai 52% dari target pada tahun 2012 ini sebesar Rp 385,5 triliun.
Faktor lain adalah membaiknya penyerapan belanja pemerintah. Sampai dengan semester pertama lalu, realisasi belanja anggaran pemerintah sudah mencapai 40,7% dari total pagu anggaran sebesar Rp 1.548 triliun.
http://nasional.kontan.co.id/news/ekonomi-kuartal-ii-tumbuh-64-menkeu-masih-cemas
SBY gembira, ekonomi kuartal kedua tumbuh 6,4%
JAKARTA. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku sangat senang dengan laju pertumbuhan ekonomi kuartal II 2012 yang menyentuh 6,4%. Angka ini tumbuh 2,8% dibandingkan kuartal I 2012.
Menurutnya, laju pertumbuhan sebesar 6,4% merupakan prestasi sendiri di tengah krisis ekonomi global. SBY pun langsung mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras.
"Alhamdulillah saya berterima kasih kepada semua pihak dengan segala upaya dan kerja keras kita menjaga perekonomian," kata SBY saat memberikan pengantar sidang kabinet di Kementan, Senin (6/8).
SBY menegaskan laju pertumbuhan ekonomi ini lantaran ditopang pertumbuhan investasi yang positif. Meski kinerja ekspor tengah mengalami tekanan akibat ketidakpastian perekonomian global. Sepertinya pemerintah pun ke depan akan lebih mengfokuskan pada kinerja investasi.
Rencananya, SBY akan menyampaikan hal tersebut dalam pidato penyampaian RAPBN 2013 pada 16 Agustus mendatang. "Ada peluang di negeri ini untuk meningkatkan investasi dan syaratnya iklim investasi harus baik di seluruh tanah air," tegasnya.
http://nasional.kontan.co.id/news/sby-gembira-ekonomi-kuartal-kedua-tumbuh-64
Menurutnya, laju pertumbuhan sebesar 6,4% merupakan prestasi sendiri di tengah krisis ekonomi global. SBY pun langsung mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras.
"Alhamdulillah saya berterima kasih kepada semua pihak dengan segala upaya dan kerja keras kita menjaga perekonomian," kata SBY saat memberikan pengantar sidang kabinet di Kementan, Senin (6/8).
SBY menegaskan laju pertumbuhan ekonomi ini lantaran ditopang pertumbuhan investasi yang positif. Meski kinerja ekspor tengah mengalami tekanan akibat ketidakpastian perekonomian global. Sepertinya pemerintah pun ke depan akan lebih mengfokuskan pada kinerja investasi.
Rencananya, SBY akan menyampaikan hal tersebut dalam pidato penyampaian RAPBN 2013 pada 16 Agustus mendatang. "Ada peluang di negeri ini untuk meningkatkan investasi dan syaratnya iklim investasi harus baik di seluruh tanah air," tegasnya.
http://nasional.kontan.co.id/news/sby-gembira-ekonomi-kuartal-kedua-tumbuh-64
Minggu, 05 Agustus 2012
Indonesia Withstands Europe Woes As Growth Accelerates: Economy
Indonesia’s economy unexpectedly accelerated as rising investments countered declining exports, reducing pressure for monetary easing as the nation withstands Europe’s sovereign-debt crisis.
Gross domestic product rose 6.37 percent in the three months ended June 30 from a year earlier, the Central Bureau of Statistics said in Jakarta today. That compares with a revised 6.32 percent gain for the first quarter and the 6.1 percent median estimate of 24 economists surveyed by Bloomberg News.
“The data points to strength of domestic demand,” said Dariusz Kowalczyk, a Hong Kong-based strategist at Credit Agricole CIB. “It reduces the already slim odds of a rate cut” this week, he said.Indonesia’s growth is the fastest among Group of 20 nations after China, even as the faltering global recovery hurt its currency and damped expansion in neighbors from Taiwan toSingapore. Investments accounted for 32.9 percent of GDP last quarter, the highest share since the Asian financial crisis, underscoring President Susilo Bambang Yudhoyono’s success in boosting confidence more than a decade after the nation sought an International Monetary Fund bailout.
The rupiah was little changed at 9,465 per dollar as of 11:52 a.m. in Jakarta, according to prices from local banks compiled by Bloomberg. It has dropped for six months, its longest losing streak since 1998, and is the worst performer this year among the 11 most traded Asian currencies tracked by Bloomberg.
Rate Decision
Bank Indonesia Governor Darmin Nasution and his board will keep the benchmark reference rate at 5.75 percent on Aug. 9, all but one of 26 economists surveyed by Bloomberg forecast. One predicted a quarter of a percentage point reduction. The central bank has avoided adding to a February interest-rate cut to the current record low.
Policy makers from China to South Korea and the Philippines lowered rates last month, a move Nasution may avoid amid the risk of price pressures as the world’s largest Muslim population observes the fasting period of Ramadan and the Eid al-Fitr festival that marks its end.
Consumer prices rose 4.56 percent last month from a year earlier, after climbing 4.53 percent in June, the statistics bureau said Aug. 1. Bank Indonesia forecasts inflation of 3.5 percent to 5.5 percent in 2012 and 2013.
Inflation is accelerating elsewhere in Asia even amid signs of easing growth momentum. Taiwan said today consumer prices rose at the fastest pace in more than three years in July. InAustralia, a private report showed job notices declined for a fourth straight month in July.
European Disagreements
Disagreements within the 17-nation euro area are undermining the future of the European Union, said Italy’s Prime Minister Mario Monti as the stand-off on European Central Bank support for Italian and Spanish debt hardened. Investor confidence in the region probably declined further in August, the Limburg, Germany-based Sentix research institute is forecast to say today.
Yudhoyono has pledged to build more roads, ports and airport to achieve average growth of 6.6 percent by the end of 2014. In July, the central bank lowered its GDP forecast to about 6.1 percent to 6.5 percent this year, from a previous estimate of as much as 6.7 percent growth. The expansion may about 6.3 percent to 6.7 percent in 2013, it said.
Indonesia’s growth in the second quarter is the fastest in the G-20 after China’s 7.6 percent. Many countries in the group haven’t released data for the same period. Saudi Arabia’s economy expanded 5.94 percent in the first quarter from a year earlier.
Rising Investment
While investment in Southeast Asia’s largest economy is increasing and has bolstered imports, easing exports led to a June trade deficit of $1.32 billion that data showed is the widest in at least five years. Exports fell 16.4 percent in June from a year earlier, while imports rose 10.7 percent.
Second-quarter growth was mainly supported by investment, government spending and household consumption, while exports slowed due to declining commodity prices as demand eased on Europe’s debt crisis, according to the statistics bureau.
Investment climbed 24 percent to 76.9 trillion rupiah ($8.1 billion) in the three months ended June 30 from a year earlier, M. Chatib Basri, chairman of the Investment Coordinating Board, said July 25. The country is targeting foreign and local investment of about 500 trillion rupiah in 2014, from as much as 290 trillion rupiah in 2012, he said in a Bloomberg interview.
Low interest rates have spurred loan growth and helped commercial banks to post higher net profits. PT Bank Central Asia, Indonesia’s biggest financial services company by market value, reported a 10.5 percent gain in first-half net income to 5.3 trillion rupiah as lending increased 42 percent.
“Domestic demand should stay resilient,” said Eugene Leow, a Singapore-based economist at DBS Group Holdings Ltd. “Credit growth has been well-supported. Other high frequency indicators such as car sales have also remained robust, supported by rising wealth and wage growth. In terms of investment, there have been no signs of slowing thus far.”
To contact the reporters on this story: Novrida Manurung in Jakarta atnmanurung@bloomberg.net; Hidayat Setiaji in Jakarta at hsetiaji@bloomberg.net
To contact the editor responsible for this story: Stephanie Phang at sphang@bloomberg.net
Jumat, 20 Juli 2012
Fitch tak ubah peringkat perbankan Indonesia
JAKARTA. Fitch tidak mengubah peringkat sejumlah bank di Indonesia pasca terbit aturan kepemilikan saham bank umum oleh Bank Indonesia (BI). Pasalnya, aturan tersebut tidak berlaku surut sehingga tidak menimbulkan perubahan posisi kepemilikan perbankan saat ini.
Lagipula, sepuluh bank besar yang menguasai 63% total aset perbankan mayoritas adalah bank milik pemerintah atau bank milik asing dengan peringkat tinggi. Bank-bank tersebut mempunyai profil keuangan dan tata kelola usaha (good corporate governance/GCG) yang mumpuni.
"Sebagian besar pemilik asing yang sudah ada cenderung tetap berkomitmen terhadap investasi mereka di sektor perbankan. Terutama karena melihat potensi pertumbuhan Indonesia," ungkap Iwan Wisakasana, Direktur Institusi Keuangan Ftch Ratings Indonesia, dalam siaran pers yang diterima KONTAN, Kamis (20/7).
Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) memilki fleksibilitas untuk meminta pemegang saham yang ada melepas kepemilikannya dalam periode tertentu, karena gagal mencapai tingkat minimum dari kriteria penilaian, termasuk soal GCG.
Menurut Fitch hal ini nantinya akan mendorong perkembangan sektor perbankan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Dan mungkin memicu konsolidasi perbankan," kata Iwan.
Pihak yang paling rawan terimbas aturan baru ini ialah bank-bank berskala kecil-menengah. Hal ini disebabkan struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi, khususnya kepemilikan keluarga yang kerap disebut sebagai salah satu faktor kegagalan perbankan Indonesia di masa lalu.
DBS-Danamon jadi preseden
Lagipula, sepuluh bank besar yang menguasai 63% total aset perbankan mayoritas adalah bank milik pemerintah atau bank milik asing dengan peringkat tinggi. Bank-bank tersebut mempunyai profil keuangan dan tata kelola usaha (good corporate governance/GCG) yang mumpuni.
"Sebagian besar pemilik asing yang sudah ada cenderung tetap berkomitmen terhadap investasi mereka di sektor perbankan. Terutama karena melihat potensi pertumbuhan Indonesia," ungkap Iwan Wisakasana, Direktur Institusi Keuangan Ftch Ratings Indonesia, dalam siaran pers yang diterima KONTAN, Kamis (20/7).
Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) memilki fleksibilitas untuk meminta pemegang saham yang ada melepas kepemilikannya dalam periode tertentu, karena gagal mencapai tingkat minimum dari kriteria penilaian, termasuk soal GCG.
Menurut Fitch hal ini nantinya akan mendorong perkembangan sektor perbankan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Dan mungkin memicu konsolidasi perbankan," kata Iwan.
Pihak yang paling rawan terimbas aturan baru ini ialah bank-bank berskala kecil-menengah. Hal ini disebabkan struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi, khususnya kepemilikan keluarga yang kerap disebut sebagai salah satu faktor kegagalan perbankan Indonesia di masa lalu.
DBS-Danamon jadi preseden
Di sisi lain, Fitch menilai aturan tersebut sejalan dengan yang dipraktikkan di luar begeri. Aturan ini juga kemungkinana tidak menghalangi masuknya Investor potensial, khususnya yang bersifat jangka panjang ke Indonesia. Apalagi BI membuka peluang kepemilikan d atas kisaran yang ditetapkan, yakni 20%-40%.Memang saat ini rincian spesifik dari BI belum tersedia, namun rencana akusisi DBS atas Bank Danamon bisa segera menjadi preseden.
Sebagai tambahan, selain batas kepemilikan, aturan ini juga menyebut mengenai kriteria tertentu termasuk peringkat kredit Investment Grade dari calon investor asing yang ingin masuk ke perbankan Indonesia.
Sebagai tambahan, selain batas kepemilikan, aturan ini juga menyebut mengenai kriteria tertentu termasuk peringkat kredit Investment Grade dari calon investor asing yang ingin masuk ke perbankan Indonesia.
Selasa, 17 Juli 2012
Overweight untuk Sektor Perbankan
INILAH.COM, Jakarta – Laporan keuangan bank umum ke Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pada bulan kelima 2012, beberapa perbankan pelat merah membukukan kenaikan laba bersih.
Misalkan saja Bank Negara Indonesia (BBNI) yang mencatatkan laba bersih Rp2,439 triliun per Mei 2012. Angka ini mengalami kenaikan tajam sebesar 47,8% ketimbang periode yang sama 2011 sebesar Rp1,650 triliun.
Sedangkan Bank Tabungan Negara (BBTN) juga berhasil membukukan kinerja yang positif, dengan laba bersih mencapai Rp541 miliar atau naik 47% dari periode yang sama 2011 sebesar Rp368 miliar.
Di posisi selanjutnya ada Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan laba bersih naik 24,7% menjadi Rp6,774 triliun.
Terakhir adalah Bank Mandiri (BMRI) yang membukukan laba bersih Rp5,4 triliun pada Mei 2012 atau mengalami kenaikan 1,1%. Rendahnya kenaikan ini dikarenakan adanya pendapatan dari recovery kredit Garuda (GIAA) pada 1Q11.
Pencapaian laba bersih bank-bank tersebut sebagian besar melampaui estimasi pasar. Misalkan saja laba bersih BMRI, yang mewakiliki 40,1% dari laba bersih 2012. Kemudian BBRI dan BBTN yang masing-masing mencapai 42% dan 43,6% dari estimasi pasar. Sedangkan BBNI in line estimasi, yang mewakili 36,9% prediksi pasar.
Dikaitkan dengan estimasi Samuel Sekuritas, pencapaian laba bersih BMRI juga di atas estimasi, yakni 41,9% dari prediksi 2012. Sementara BBRI dan BBNI in line dengan estimasi, yang mewakili 39,6% dan 36,9%.
Dengan positifnya kinerja perbankan, tak heran bila Samuel sekuritas memberi rekomendasi overweight bagi sektor ini. [ast]
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1883782/overweight-untuk-sektor-perbankan
Senin, 16 Juli 2012
IMF Pangkas Proyeksi PDB Global Jadi 3,5%
INILAH.COM, Washington - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tahun ini pertumbuhan ekonomi atau PDB global hanya mencapai 3,5 persen.
Proyeksi ini mengalami penurunan dengan krisis yang dialami kawasan Eropa, ekonomi China dan India yang melambat. Hal ini telah menekan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini dan tahun depan. Proyeksi yang dikeluarkan pada bulan April, IMF masih optimistis pertumbuhan sebesar 3,6%.
Dalam outlook kuartal keuda ini, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan tahun 2013 menjadi 3,9 persen dari sebelumbya 4,1 persen. Untuk pertumbuhan ekonomi AS, IMF memproyeksikan menjadi 2 persen dari proyeksi sebelumnya 2,1 persen. Untuk tahun 2013, pertumbuhan ekonomi AS sebesar 2,3% dari sebelumnya 2,4 persen.
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1883153/imf-pangkas-proyeksi-pdb-global-jadi-35
Jumat, 13 Juli 2012
Pertumbuhan Indonesia bisa anjlok ke level 3,8%
JAKARTA. Pemerintah harus benar-benar mengantisipasi kemungkinan terburuk dari dampak resesi perekonomian global. Jika tidak, dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko anjlok ke tingkat 3,8% di tahun 2013.
"Skenario paling buruk adalah jika tidak ada penyelesaian atas krisis saat ini sehingga situasi terus memburuk. Kalau itu terjadi, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia jatuh ke level 3,8%-4%. Itu yang terburuk," kata Menteri koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Istana, Jumat (13/7).
Terlepas dari itu, Hatta berharap hal tersebut tidak akan terjadi. Menurutnya, hal ini hanya sebatas ramalan dari Bank Dunia. Sejauh ini, pertumbuhan Indonesia tetap positif dan tinggi.
Meski demikian, Hatta mengakui, merupakan hal yang tidak mudah untuk menjaga pertumbuhan tetap tinggi. Bank Indonesia sendiri memproyeksi adanya perlambatan pertumbuhan, yang diperkirakan hanya sampai 6% pada tahun ini.
Tetapi Hatta tetap optimistis, laju pertumbuhan tetap bisa menyentuh 6,3%-6,5%. "Ya memang ini bukanlah pekerjaan yang ringan agar kita bisa tumbuh 0,3%. Tapi bukan berarti tidak mungkin mencapai itu, sepanjang kita terus menjaga konsumsi dan investasi," jelasnya.
Sementara itu, menyangkut nilai ekspor, tidak bisa dipungkiri hal itu dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Hatta berkilah, turunnya kinerja ekspor bukan lantaran volume melainkan karena harga komoditas yang anjlok sehingga mengurangi pendapatan.
http://nasional.kontan.co.id/news/pertumbuhan-indonesia-bisa-anjlok-ke-level-38/2012/07/13
"Skenario paling buruk adalah jika tidak ada penyelesaian atas krisis saat ini sehingga situasi terus memburuk. Kalau itu terjadi, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia jatuh ke level 3,8%-4%. Itu yang terburuk," kata Menteri koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Istana, Jumat (13/7).
Terlepas dari itu, Hatta berharap hal tersebut tidak akan terjadi. Menurutnya, hal ini hanya sebatas ramalan dari Bank Dunia. Sejauh ini, pertumbuhan Indonesia tetap positif dan tinggi.
Meski demikian, Hatta mengakui, merupakan hal yang tidak mudah untuk menjaga pertumbuhan tetap tinggi. Bank Indonesia sendiri memproyeksi adanya perlambatan pertumbuhan, yang diperkirakan hanya sampai 6% pada tahun ini.
Tetapi Hatta tetap optimistis, laju pertumbuhan tetap bisa menyentuh 6,3%-6,5%. "Ya memang ini bukanlah pekerjaan yang ringan agar kita bisa tumbuh 0,3%. Tapi bukan berarti tidak mungkin mencapai itu, sepanjang kita terus menjaga konsumsi dan investasi," jelasnya.
Sementara itu, menyangkut nilai ekspor, tidak bisa dipungkiri hal itu dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Hatta berkilah, turunnya kinerja ekspor bukan lantaran volume melainkan karena harga komoditas yang anjlok sehingga mengurangi pendapatan.
http://nasional.kontan.co.id/news/pertumbuhan-indonesia-bisa-anjlok-ke-level-38/2012/07/13
Suku Bunga Acuan Tetap, Properti Prospektif
INILAH.COM, Jakarta – Sikap Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%, dinilai berdampak netral terhadap saham sektor properti.
"BI Rate tidak ada perubahan, maka dampaknya netral terhadap saham sektor properti," ujar Kepala Riset PT Henan Putihrai Felix Sindhunata, Jumat (13/7/2012).
Sementara itu, Head of Research PT E-Trading Securities Betrand Raynaldi mengatakan, pertumbuhan properti memang sangat terkait dengan tingkat suku bunga perbankan.
Dengan BI Rate dipertahankan di level 5,75%, maka akan mengalihkan investasinya ke sektor properti. "Apalagi investasi berbentuk portfolio tengah dalam volatilitas tinggi, sehingga secara keseluruhan, pertumbuhan sektor properti sampai dengan akhir 2012 masih akan prospektif," kata Betrand.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), secara year-to-date indeks saham sektor properti menjadi indeks sektoral yang meningkat tertinggi dibandingkan indeks sektoral lainnya dengan kenaikan sebesar 21,33% menjadi 278,16 poin. [ast]
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1882211/suku-bunga-acuan-tetap-properti-prospektif
Kamis, 12 Juli 2012
BI turunkan pertumbuhan tahun ini ke 6,1%-6,5%
JAKARTA. Melemahnya perekonomian dunia mulai merembet pada kinerja ekonomi Indonesia, terutama untuk ekspor. Bank Indonesia (BI) pun memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Pertumbuhan ekonomi tahun ini kami akui akan lebih rendah, tapi tidak banyak. Dari 6,3%-6,7% dengan titik tengah 6,5%, menjadi 6,1%-6,5% dengan titik tengah 6,3%," ujar Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Kamis (12/7).
BI juga memperkirakan ekonomi di triwulan ketiga 2012 tumbuh 6,3%. Sementara tahun depan, ekonomi bisa tumbuh 6,3%-6,7%.
Ekonomi masih bisa berkembang di atas 6% dengan dukungan permintaan domestik baik konsumsi dan investasi yang kuat. Sektor andalan yang jadi motor ekonomi ke depan antara lain transportasi dan komunikasi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industri.
Membaik di paruh kedua
Darmin memperkirakan neraca pembayaran Indonesia yang tertekan pada triwulan kedua 2012 akan cenderung membaik pada paruh kedua nanti.
Namun, pemerintah harus bersiap, defisit transaksi berjalan di kuartal kedua diperkirakan bakal lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya. Maklum, kinerja ekspor merosot. Di sisi lain, surplus transaksi modal dan financial (TMF) di triwulan kedua 2012 dirasa masih cukup tinggi. Penopangnya adalah maraknya investasi langsung dan membaiknya arus porfolio asing.
BI menyatakan akan menyesuakan impor bahan baku sejalan dengan menurunnya ekspor. Tujuannya adalah untuk mengurangi tekanan defisit transaksi berjalan. Pada akhir Juni lalu, cadangan devisa Indonesia mencapai Rp 106,5 miliar dollar AS yang setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
Rabu, 11 Juli 2012
Kejutan, Korsel ikut pangkas bunga
SEOUL. Muramnya kondisi ekonomi global merambat ke Asia. Ini memicu bank sentral di Asia mengambil langkah stimulus untuk mendorong ekonominya. Yang terbaru, hari ini Bank of Korea (BOK) ikut memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.
BOK memotong bunga acuan sebesar 25 basis poin sehingga menjadi 3%. Langkah pemotongan pertama sejak 2009 ini mengejutkan karena tak diduga sebelumnya. Hanya tiga dari 26 analis dalam survei Reuters yang memprediksi pemangkasan bunga Korsel ini.
Pejabat BOK belum menjelaskan alasan pemangkasan ini. Tapi Gubernur BOK Kim Choong-soo akan menggelar konferensi pers pukul 11:20 siang ini waktu Seoul.
“Kami memperkirakan pemangkasan 25 basis poin lagi di Oktober menjadi 2,75% dan BOK akan tetap menjaga 2,75% sepanjang 2013,” kata Young Sun Kwon, Ekonom Nomura International yang telah memprediksi BOK bakal memotong bunga tahun ini.
Pemangkasan bunga BOK mengakhiri siklus pengetatan moneter Korsel yang berawal di Juli 2010. Sejak itu, BOK telah menaikkan bunga sebanyak 125 basis poin atau 1,25%. Namun demikian, kenaikan tersebut masih kurang dari pemangkasan 3,25% yang terjadi sepanjang krisis keuangan global tahun 2008-2009.
Bulan lalu, Kementerian Keuangan Korsel memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negeri ginseng tahun ini menjadi 3,3% dari 3,7%. Angka itu cuma sedikit lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang sebesar 3,6% , juga pertumbuhan ekonomi Korsel rata-rata dalam lima tahun terakhir sebesar 3,5%.
BOK juga diprediksi akan merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Korsel yang saat ini masih di angka 3,5%.
Tak hanya Korsel saja yang cemas. Di dunia, bank-bank sentral dari Eropa, Brazil, dan China secara berbarengan telah memangkas suku bunga dalam seminggu terakhir. China memangkas bunga untuk kedua kalinya dalam satu bulan demi memberi energi pada ekonomi domestiknya.
Para ekonom perkirakan BI rate akan tetap 5,75%
JAKARTA. Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menahan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75%. Alasannya, laju inflasi masih sesuai target pemerintah.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan, inflasi akan stabil di kisaran 5% sampai akhir tahun ini. "Jadi peluang BI rate tidak berubah sampai akhir tahun amat besar," katanya, Selasa (10/7).
Kendati ada peningkatan laju inflasi menjelang Lebaran, Prubaya menilai pengaruhnya hanya sementara. Dia bilang sifat inflasi tersebut tidak akan mengubah inflasi tahunan apalagi ekspetasi inflasi kenaikan harga BBM sudah berakhir.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti juga sepakat BI akan menahan BI rate di level 5,75%. Bahkan, ia juga memperkirakan sampai akhir tahun BI tetap akan menahan suku bunga acuannya di level 5,75%.
Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetyantono juga menduga, BI akan kembali menahan suku bunga acuannya di level 5,75%. Alasannya, meski inflasi year on year pada Juni lalu mencapai 4,53%, tapi akan ada ancaman kenaikan inflasi terutama karena puasa dan lebaran.
Alasan lainnya, nilai tukar rupiah saat ini masih cenderung lemah. Sehingga, "Kalau BI rate diturunkan, khawatir rupiah akan semakin terperosok," ungkap Tony.
Di mengatakan, cadangan devisa masih cukup tinggi. Namun, Tony mengingatkan tren penurunan cadangan devisa yang cukup cepat akhir-akhir ini perlu diwaspadai.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan, inflasi akan stabil di kisaran 5% sampai akhir tahun ini. "Jadi peluang BI rate tidak berubah sampai akhir tahun amat besar," katanya, Selasa (10/7).
Kendati ada peningkatan laju inflasi menjelang Lebaran, Prubaya menilai pengaruhnya hanya sementara. Dia bilang sifat inflasi tersebut tidak akan mengubah inflasi tahunan apalagi ekspetasi inflasi kenaikan harga BBM sudah berakhir.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti juga sepakat BI akan menahan BI rate di level 5,75%. Bahkan, ia juga memperkirakan sampai akhir tahun BI tetap akan menahan suku bunga acuannya di level 5,75%.
Pengamat Ekonomi Universitas Gadjah Mada Tony Prasetyantono juga menduga, BI akan kembali menahan suku bunga acuannya di level 5,75%. Alasannya, meski inflasi year on year pada Juni lalu mencapai 4,53%, tapi akan ada ancaman kenaikan inflasi terutama karena puasa dan lebaran.
Alasan lainnya, nilai tukar rupiah saat ini masih cenderung lemah. Sehingga, "Kalau BI rate diturunkan, khawatir rupiah akan semakin terperosok," ungkap Tony.
Di mengatakan, cadangan devisa masih cukup tinggi. Namun, Tony mengingatkan tren penurunan cadangan devisa yang cukup cepat akhir-akhir ini perlu diwaspadai.
Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistyaningsih juga sepakat memprediksi penahanan suku bunga acuan BI di level 5,75%. Ia menilai, suku bunga acuan di level ini masih cukup nyaman bagi investor. Alasannya, dalam kondisi ketidakpastian cukup tinggi, sinyal kehati-hatian dan tidak reaktif bagi BI juga sangat dibutuhkan investor agar tak menimbulkan kepanikan di pasar.
Sebenarnya, Lana bilang dengan inflasi yang rendah seperti saat ini menjadi saat yang kondusif bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuannya. Hanya saja, pelemahan nilai tukar membuat BI tetap menahan suku bunga acuannya.
Ke depan, jika arus modal terus masuk dan inflasi tetap terkendali, Lana memperkirakan masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke level 5,5%. Tapi, lagi-lagi keputusan itu sangat tergantung dengan kondisi nilai tukar. Jika nilai tukar melemah, BI sebaiknya tetap menahan suku bunga acuannya di 5,75%.
Sebenarnya, Lana bilang dengan inflasi yang rendah seperti saat ini menjadi saat yang kondusif bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuannya. Hanya saja, pelemahan nilai tukar membuat BI tetap menahan suku bunga acuannya.
Ke depan, jika arus modal terus masuk dan inflasi tetap terkendali, Lana memperkirakan masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuannya 25 basis poin ke level 5,5%. Tapi, lagi-lagi keputusan itu sangat tergantung dengan kondisi nilai tukar. Jika nilai tukar melemah, BI sebaiknya tetap menahan suku bunga acuannya di 5,75%.
Senin, 09 Juli 2012
Yield obligasi Spanyol kembali menanjak
MADRID. Memiliki kondisi keuangan yang tak sehat harus dibayar malah oleh Spanyol. Surat utang negara bertenor 10 tahun milik Negeri Matador ini melonjak saat menteri keuangan zona euro berkumpul hari ini.
Yield obligasi Spanyol menjulang di atas 7% dan surat utang milik Italia dengan tenor yang sama naik ke 6,1%.
Pemerintah berharap, imbal hasil tersebut tak terus meningkat signifikan.Bailout perbankan Spanyol diharapkan bisa meredam lonjakan biaya yang harus ditanggung pemerintah saat menerbitkan surat utang.
Sebelumnya, para pemimpin Eropa sepakat memberikan pinjaman senilai 100 miliar euro atau US$ 123 miliar dan akan diaudit secara independen.
Rabu, 04 Juli 2012
2013 Pemerintah targetkan PDB capai US$ 1 triliun
JAKARTA. Pemerintah menargetkan produk domestik bruto (PDB) 2013 mencapai US$ 1 triliun. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana yakin lantaran kondisi ekonomi saat ini cukup stabil.
Armida memperkirakan, PDB 2012 ini akan mencapai US$ 900 miliar dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Sehingga, dia yakin target pada 2013 mendatang sebesar US$ 1 triliun itu bisa dikejar.
Armida berharap kesejahteraan masyarakat bisa semakin meningkat dengan meningkatnya PDB Indonesia pada 2013 nanti. “Kalau size PDB nya besar, berarti kan ekonomi terus tumbuh,” kata Armida, Rabu (4/7).
Untuk mengejar target itu, pemerintah akan berusaha menjaga kestabilan pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pembangunan infrastruktur. Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Prasetijono Widjojo mengatakan, pertumbuhan ekonomi dan percepatan infrastruktur itu tergantung dari pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2012 dan 2013.
Dalam RKP 2013 pemerintah telah merumuskan perencanaan pembangunan konektivitas berdasarkan kondisi geografis di enam koridor ekonomi. Ke enam wilayah tersebut di antaranya; Papua, Maluku dan Nusa Tenggara. “Itu jangka panjang,” kata Prasetijono, Rabu (4/7).
Untuk jangka pendek, pemerintah melakukan berbagai langkah menguatkan perekonomian dalam negeri yang mulai terimbas krisis ekonomi Eropa. Pemerintah akan memajukan industri dalam negeri supaya kebutuhan dalam negeri bisa terpenuhi.
Dari sisi ekspor, pemerintah akan berusaha menggenjot ekspor dengan cara diversifikasi dan memperluas negara tujuan ekspor ke beberapa negara yang selama ini belum tergarap dengan baik. Sebagai catatan saja berdasarkan laporan BPS, kinerja ekspor Mei 2012 mengalami penurunan hingga mencapai US$ 16,72 miliar atau turun 8,55% jika dibandingkan pada periode yang sama pada Mei 2011 yang lalu yang mencapai US$ 18,33 miliar.
http://nasional.kontan.co.id/news/2013-pemerintah-targetkan-pdb-capai-us-1-triliun
Indeks kepercayaan konsumen Juni naik
JAKARTA. Ekonomi domestik yang masih tumbuh baik membuat kepercayaan konsumen terus terdongkrak. Buktinya, indeks kepercayaan konsumen Juni lalu naik.
Survei Danareksa Research Institute menunjukkkan indeks kepercayaan konsumen pada Juni sebesar 92,4, naik 1,2% dari Mei yang sebesar 91,3. Indeks kepercayaan konsumen Juni ini juga mendekati level tertingginya dalam tujuh tahun terakhir yang sebesar 93,5.
Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kepercayaan konsumen menguat karena peningkatan penilaian masyarakat terhadap keadaan ekonomi nasional saat ini. "Masyarakat juga memberikan penilaian yang lebih baik terhadap keadaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang," ujarnya Rabu (4/7).
Indeks ekspektasi konsumen pada Juni lalu meningkat 1,4% menjadi 1,04. Purbaya mengatakan, kenaikan indeks ekspektasi konsumen menunjukkan optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi dalam enam bulan ke depan terus meningkat.
Tekanan kenaikan harga menjelang puasa dan Idul Fitri yang akan jatuh pada Juli - Agustus nanti membuat masyarakat yakin tekanan inflasi bakal sedikit meningkat dalam enam bulan yang akan datang. Buktinya, indeks sentimen inflasi naik 0,6% menajdi 191,2 pada Juni.
Senada dengan Danareksa, hasil survei Bank Indonesia (BI) pjuga menunjukkan indeks keyakinan konsumen pada Juni juga meningkat dari 109 menjadi 114,4. Tak hanya itu, survei BI juga menunjukkan optimisme membaiknya kegiatan usaha dalam enam bulan ke depan juga mendorong peningkatan ketersediaan lapangan usaha, sehingga indeks ekspektasi konsumen meningkat dari 114,3 menjadi 121,3.
Direktur INDEF Enny Sri Hartati mengatakan naiknya indeks keyakinan konsumen ini disebabkan karena melihat prospek ekonomi ke depan masih baik. "Ini menunjukkan tidak terjadi penurunan daya beli masyarakat yang signifikan," ujarnya.
Membaiknya indeks kepercayaan konsumen ini, kata Enny juga memberikan sinyal positif pada pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia mayoritas dikontribusi oleh konsumsi masyarakat. Kalau daya beli masyarakat tidak turun signifikan, ia optimis ekonomi Indonesia masih akan tumbuh di atas 6% tahun ini.
http://nasional.kontan.co.id/news/indeks-kepercayaan-konsumen-juni-naik
Dana Kelolaan Reksa Dana per Juni Capai Rp169,9 T
INILAH.COM, Jakarta - Dana kelolaan reksa dana per Juni 2012 meningkat mencapai Rp169,91 triliun dengan jumlah unit 104,88 miliar.Angka ini naik Rp4,2 triliun dari Mei 2012 yang tercatat sebesar Rp165,63 triliun.
Komposisi dana kelolaan reksa dana per Juni 2012 antara lain, reksa dana terproteksi senilai Rp40,84 triliun, reksa dana syariah terproteksi senilai Rp136,98 miliar, reksa dana syariah saham senilai Rp1,20 triliun, reksa dana syariah campuran senilai Rp1,98 triliun, dan reksa dana syariah pendapatan tetap senilai Rp662,95 miliar.
Dana kelolaan tersebut juga didukung dari reksa dana saham senilai Rp63,74 triliun. Dana kelolaan reksa dana saham masih mencatatkan total dana kelolaan yang tertinggi. Demikian seperti dikutip dari data Bapepam-LK, Rabu (4/7/2012).
Total dana kelolaan reksa dana pasar uang sebesar Rp11,40 triliun, dana kelolaan reksa dana campuran senilai Rp22,08 triliun, reksa dana indeks senilai Rp319,28 miliar, reksa dana pendapatan tetap senilai Rp29,65 triliun, reksa dana ETF-Saham sebesar Rp66,81 miliar, dan reksa dana ETF-Fixed Income sebesar Rp1,13 triliun. [ast]
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1878986/dana-kelolaan-reksa-dana-per-juni-capai-rp1699-t
Senin, 02 Juli 2012
Defisit perdagangan makin mengkhawatirkan
JAKARTA. Dampak liberalisasi perdagangan terus memukul neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dalam dua bulan terakhir yakni April dan Mei, nilai ekspor Indonesia jauh lebih kecil ketimbang angka impor.
BPS mencatat, impor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2012 melonjak hingga 17% jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Adapun nilai ekspor hanya naik 1,5%.
Timpangnya angka ini akibat impor Indonesia lebih banyak ketimbang negara mitra dagang. Antara lain dengan China, Thailand, Jepang, Korea Selatan serta Singapura (Lihat: Neraca Perdagangan 2012 Terus Memerah). "Defisit perdagangan Indonesia dengan Thailand semisal, ini karena kita impor mobil, dan gula," tandas Suryamin, Kepala BPS, Senin (2/7).
Adapun dengan China, Indonesia masih banyak mengimpor mesin dan peralatan dari China. Sementara dengan Jepang, Indonesia banyak mengimpor mobil mewah. Hal ini terpicu perjanjian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement yang menghilangkan semua sumbatan impor.
Tak hanya itu saja. Melesatnya angka impor juga karena kenaikan impor minyak yang sangat besar. Sepanjang Januari - Mei 2012, nilainya mencapai US$ 9,7 miliar. Penjualan kendaraan bermotor yang tinggi menaikkan penggunaan bahan bakar minyak.
Adapun Indonesia hanya pasrah dengan penyusutan angka ekspor lantaran harga dan permintaan komoditas terus menurun. Padahal, ekspor komoditas mengambil porsi hingga 40% dari total ekspor Indonesia.
Dengan kondisi seperti ini, Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto berharap, pemerintah memberi perhatian serius agar defisit neraca perdagangan tak terus berlanjut. Jika kondisi ini terus berlanjut, ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih memprediksi defisit neraca perdagangan ke depan bakal makin lebar.
Ini bisa berbahaya bagi daya tahan ekonomi Indonesia. Rupiah bisa terus anjlok sementara modal intervensi tidak ada karena minimnya pemasukan devisa.
Meski begitu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro memandang, defisit perdagangan masih di level aman. "Persentase defisit masih belum melampaui 3% dari produk domestik bruto (PDB)," ujar Bambang.
Namun harus diakui, upaya pemerintah memperketat masuknya barang impor dengan berbagai aturan belum mampu membendung laju impor.
Kini, pemerintah berupaya dengan terus menggenjot arus modal masuk ke Indonesia agar terus membesar. Dengan begitu, "Capital account yang positif bisa menutup current account yang negatif," harap Bambang. Bila berhasil, cadangan devisa Indonesia tidak akan terkuras.
Nilai impor Mei 2012 naik menjadi US$ 17,21 miliar
JAKARTA. Berbeda dengan kinerja ekspor yang menurun, laju impor justru semakin kencang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor Mei 2012 naik 16,09% ketimbang periode yang sama tahun lalu menjadi sebesar US$ 17,21 miliar.
Kepala BPS Suryamin mengungkapkan impor Mei 2012 naik 1,61% ketimbang impor April 2012 yang sebesar US$ 16,94 miliar. "Impor migas turun 12,44% dari April ke Mei dan impor non migas naik 6,13% pada periode yang sama," ujarnya Senin (2/7).
Selama Januari - Mei 2012 total impor Indonesia mencapai US$ 79,9 miliar atau naik 16,62% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Sedangkan impor non migas dalam lima bulan pertama tahun ini US$ 61,65 miliar naik 17,39% ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Dilihat dari pangsa impor non migas selama Januari - Mei 2012, negara asal impor Indonesia yang terbesar dari China sebesar US$ 11,89 miliar, disusul Jepang dan Thailand dengan nilai masing-masing US$ 9,66 miliar dan US$ 4,73 miliar. Pangsa ketiga negara ini sebesar 42,63%.
Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto bilang laju impor lebih tinggi ketimbang perlambatan ekspor. "Tingginya laju impor ini karena masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku penolong dari luar negeri," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, dari total impor Januari - Mei 2012 yang sebesar US$ 79,9 miliar, sebanyak US$ 58,36 miliar (73,05%). Sedangkan impor barang modal tercatat sebeasr US$ 15,95 miliar (19,96%) dan impor barang konsumsi sebesar US$ 5,59 miliar (6,99%).
http://nasional.kontan.co.id/news/nilai-impor-mei-2012-naik-menjadi-us-1721-miliar/2012/07/02
Senin, 25 Juni 2012
Atur Pemilik Bank, BI harus Gandeng Otoritas Bursa
INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) sebaiknya melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan regulator pasar modal sebelum menerbitkan aturan pembatasan kepemilikan bank.
"Jangan sampai para investor asing menginterpretasikan lain kebijakan tersebut dan mereka berspekulasi," ujar Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom BNI dalam acara diskusi perbankan, Senin (27/6/2012).
Menurutnya, titik kritis aturan kepemilikan bank ini berada sebelum masa implementasi atau sebelum aturan ini diterbitkan. "Jadi BI perlu sosialisasi terlebih dahulu agar tidak membikin syok di pasar dan itu harus dipersiapkan dengan baik karena itu terkait saham atau dana asing," ujarnya.
Ryan mengkhawatirkan jika aturan ini diinterpretasikan negatif pihak asing, bank yang ingin melakukan pencatatan saham, pasti akan ditanya para investor di sana terkait aturan ini saat melakuka road show. "Dan ini bisa berakibat mengurangi minat beli asing terhadap saham-saham perbankan yang akan IPO," katanya. [hid]
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1875957/atur-pemilik-bank-bi-harus-gandeng-otoritas-bursa
Langganan:
Postingan (Atom)