DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).
Tampilkan postingan dengan label PTBA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTBA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juli 2012

PTBA Belum Akan Tambah Saham BATR


INILAH.COM, Jakarta - Manajemen PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) menegaskan, pihaknya belum akan menambah saham di PT Bukit Asam Transpacific Railway (BATR).

"Prioritas kita bukan menambah saham, tapi rekonstruksi tambang dan infrastrukturnya. Target struktur kepemilikannya selesai masalah pendanaan dan pembebasan lahan. Kalau tambah saham itu belakangan," ujar Milawarma, Selasa (24/7/2012) malam.

Sekedar informasi, PTBA sejak tahun lalu berencana menambah kepemilikan saham di BATR. Perseroan akan membeli saham milik Rajawali Corporation yang menguasai 80% saham BATR, dengan dana yang dibutuhkan mencapai US$320 juta. [ast]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1886472/ptba-belum-akan-tambah-saham-batr

PTBA Berharap Raih Laba Rp3,4 T pada 2012


INILAH.COM, Jakarta - PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) akan melakukan selective mining untuk dapat meraih target laba sekitar Rp3,4 triliun pada 2012.

Direktur Utama PT Tambang Bukit Asam Tbk Milawarma menuturkan, pihaknya akan melakukan strategi untuk mengejar target kinerja sebesar 20% pada 2012. Pertama, pihaknya akan melakukan selective mining. Perseroan memiliki kalori batu bara mulai tingkat rendah hingga tinggi.

"Kami akan meningkatkan produksi kualitas batu bara berkalori tinggi yaitu kalori 7.000. Batu bara kalori tinggi memiliki margin cukup tinggi," ujar Milawarma, Selasa (24/7/2012) malam.

Lebih lanjut ia mengatakan, perseroan memproduksi batu bara kalori tinggi sekitar 25% pada semester pertama 2012. Perseroan menargetkan dapat memproduksi batu bara kualitas tinggi sekitar 35% pada semester kedua 2012. Selain itu, Kedua, perseroan juga akan mengendalalikan biaya dan alat.

Milawarma mengatakan, dengan strategi yang dilakukan perseroan tersebut diharapkan kinerja tumbuh 20% pada 2012. "Kami mengharapkan dapat meraih laba bersih sekitar Rp3,4 triliun pada tahun ini," kata Milawarma.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan pendapatan Rp5,79 triliun hingga semester pertama 2012 atau naik 13% dari semester pertama 2011 Rp5,11 triliun. Kontribusi pendapatan berasal dari volume penjualan sebesar 7,36 juta ton atau naik 13% hingga semester pertama 2012 dibandingkan semester pertama 2011 sebesar 6,54 juta ton.

Harga jual rata-rata Rp785,043 hingga semester pertama 2012 dari harga jual rata-rata semester pertama 2011 sebesar Rp781.228. Namun, Laba bersih turun 3% menjadi Rp1,56 triliun hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp1,61 triliun. Laba usaha turun 5% menjadi Rp1,97 triliun hingga semester pertama 2011 sebesar Rp1,97 triliun.

Milawarman menuturkan, penurunan laba tersebut dikarenakan harga komoditi turun pada semester pertama 2012. Hal itu seiring ada perlambatan ekonomi di China Selatan sehingga kebutuhan akan energi menjadi turun. "Stok batu bara melebihi stok normal. China banyak menunda mengambil batu bara, dan kontingen Amerika Serikat juga menjual batu bara," tutur Milawarma. [ast]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1886459/ptba-berharap-raih-laba-rp34-t-pada-2012

PTBA Belanjakan Modal Rp417 M Garap PLTU


INILAH.COM, Jakarta - PT Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA) telah merealisasikan belanja modal senilai Rp417 miliar hingga semester pertama 2012 atau 31% dari total alokasi belanja modal Rp1,4 triliun pada 2012.

Sekretaris Perusahaan PTBA, Hananto Laksono menuturkan, dana tersebut terserap untuk pembangunan PLTU 2x8 MW untuk pemakaian sendiri di pelabuhan Tarakan. Selain itu, belanja modal juga untuk peningkatan kapasitas pelabuhan Tarakan.

Selain itu, Perseroan membukukan pendapatan Rp5,79 triliun hingga semester pertama 2012 atau naik 13% dari semester pertama 2011 Rp5,11 triliun.

Kontribusi pendapatan berasal dari volume penjualan sebesar 7,36 juta ton atau naik 13% hingga semester pertama 2012 dibandingkan semester pertama 2011 sebesar 6,54 juta ton. Harga jual rata-rata Rp785,043 hingga semester pertama 2012 dari harga jual rata-rata semester pertama 2011 sebesar Rp781.228.

Laba bersih turun 3% menjadi Rp1,56 triliun hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp1,61 triliun. Laba usaha turun 5% menjadi Rp1,97 triliun hingga semester pertama 2011 sebesar Rp1,97 triliun.

"Penambahan volume penjualan tidak berdampak positif kepada laba usaha dan laba bersih perseroan hingg semester pertama 2012 terutama disebabkan oleh peningkatan volume produksi yang tidak sebanding dengan peningkatan angkutan kereta api berakibat meningkatnya volume persediaan batu bara," tutur Hananto.

Produksi perseroan mencapai 7,08 juta ton atau naik 14% hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 6,19 juta ton. Pembelian batu bara dari pihak ketiga sebesar 0,81 juta ton hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar 0,33 juta ton.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1886282/ptba-belanjakan-modal-rp417-m-garap-pltu

Pendapatan PTBA Capai Rp5,79 Triliun


INILAH.COM, Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan pendapatan Rp5,79 triliun hingga semester pertama 2012 atau naik 13% dari semester pertama 2011 Rp5,11 triliun.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (24/7/2012). Kontribusi pendapatan berasal dari volume penjualan sebesar 7,36 juta ton atau naik 13% hingga semester pertama 2012 dibandingkan semester pertama 2011 sebesar 6,54 juta ton. Harga jual rata-rata Rp785,043 hingga semester pertama 2012 dari harga jual rata-rata semester pertama 2011 sebesar Rp781.228.

Laba bersih turun 3% menjadi Rp1,56 triliun hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp1,61 triliun. Laba usaha turun 5% menjadi Rp1,97 triliun hingga semester pertama 2011 sebesar Rp1,97 triliun.

"Penambahan volume penjualan tidak berdampak positif kepada laba usaha dan laba bersih perseroan hingg semester pertama 2012 terutama disebabkan oleh peningkatan volume produksi yang tidak sebanding dengan peningkatan angkutan kereta api berakibat meningkatnya volume persediaan batu bara," tutur Sekretaris Perusahaan PTBA, Hananto Laksono.

Produksi perseroan mencapai 7,08 juta ton atau naik 14% hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 6,19 juta ton. Pembelian batu bara dari pihak ketiga sebesar 0,81 juta ton hingga semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar 0,33 juta ton. [hid]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1886276/pendapatan-ptba-capai-rp579-triliun

Sabtu, 21 Juli 2012

ANTM, PTBA dan TINS Berpotensi Merger?


INILAH.COM, Jakarta - Rencana pembentukan induk perusahaan (holding) BUMN pertambangan dipastikan tidak dapat terealisasi hingga 2014. Pasalnya, tiga BUMN tambang masih tercatat sebagai perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Tiga BUMN tambang itu adalah PT Aneka Tambang Tbk, (ANTM), PT Perusahaan Tambang Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Timah Tbk (TINS). "Tiga BUMN tambang ini menggandeng status Tbk, sehingga tambah rumit pelaksanaannya," kata Deputi Menteri BUMN Bidang Primer, Muhammad Zamkhani saat ditemui di kantor Kementerian BUMN seperti mengutip Antara, Jumat (20/7/2012).

Zamkhani beralasan untuk merealisasikan pembentukan "holding" BUMN pertambangan ini, maka pemerintah seharusnya berkoordinasi dengan Bapepam-LK dan Bursa Efek Indonesia. Koordinasi itu membutuhkan waktu yang lama sebab menyangkut kepemilikan saham publik.

Selain terkendala status perusahaan terbuka, pembentukan holding BUMN pertambangan juga terbentur Izin Usaha Pertambangan (IUP). Pasalnya, IUP tidak boleh dipindahtangankan kepada pihak lain.

UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pasal 93 berbunyi pemegang IUP dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) tidak boleh memindahkan IUP dan IUPK-nya kepada pihak lain. Perpindahan tangan IUP dari suatu perusahaan ke perusahaan lain tidak diperkenankan berdasarkan UU Minerba.

"Ini juga yang menjadi perhatian kita. Banyak lagi preferensinya di BUMN tambang ini," ungkapnya.

Sebelumnya, Kementerian BUMN pernah mengirim surat kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengenai rencana pembentukan "holding" BUMN pertambangan antara Antam, Timah, dan Bukit Asam. Surat itu dikirim ke Bapepam pada 25 Januari 2006 dengan nomor S-6/D4.NBU-2006.

Proses pembentukan "holding" pernah diwacanakan oleh Citigroup dengan merekomendasikan perusahaan pertambangan yang terintegrasi (Integrated Resources Company/IRC) melalui pembentukan perusahaan baru sebagai "holding".

Hasil kajian sudah disampaikan bersama dengan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Menteri Keuangan pada Januari 2008.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1884968/antm-ptba-dan-tins-berpotensi-merger

Jumat, 13 Juli 2012

Track Record Jadi Acuan Pilih Saham Batu Bara


INILAH.COM, Jakarta – Meski ada potensi technical rebound, saham-saham batu bara diprediksi tidak akan mengalami rally panjang. Karena itu, track record emiten menjadi kuncinya. Tiga saham pun dijagokan.

Pada perdagangan Kamis (12/7/2012)saham PT Indo Tambang Raya (ITMG) ditutupturun Rp800 (2,1%) ke angka Rp37.200; PT Bukit Asam (PTBA) melemah Rp550 (3,55%) ke Rp14.900; PT Bumi Resources (BUMI) ditutup turun Rp30 (2,67%) ke angka Rp1.090;

PT Harum Energy (HRUM) turun Rp200 (3,41%) ke posisi Rp5.650; PT Adaro Energy (ADRO) turun Rp50 (3,52%) ke Rp1.370; dan PT Borneo Lumbung Energi (BORN) turun Rp10 (1,85%) ke Rp530 per saham.

Investment Analyst dari Syailendra Capital, Lanang Trihardian mengatakan, untuk jangka pendek, pergerakan saham-saham di sektor batu bara mengekor sentimen eksternal. Selain itu, ada harapan harga batu bara menguat dari level saat ini US$88,6 per metrik ton berdasarkan harga mingguan di Newcastle.

Tapi,dia mengingatkan, pasar tidak bisa berharap harga batu bara bisa mencapai US$120 per metrik ton seperti 2011.“Meski begitu, saya yakin, emiten-emiten di sektor batu bara masih mencatatkan laba bersih yang positif,” katanya kepada INILAH.COM.

Karena itu, lanjut dia, investor lebih baik fokus pada kinerja fundamental emiten di sektor ini. “Perusahaan-perusahaan batu bara Indonesia dengan harga batu bara saat ini, masih mencatatkan keuntungan meskipun harga batu bara tidak setinggi 2011,” papar dia.

Lanang menilai, penurunan harga batu bara ke level saat ini, bukanlah masalah yang berartidan semata siklus bisnis setelah batu bara meroket ke atas US$130-an tahun lalu. “Suatu hal yang wajar, harga komoditas turun naik,” ungkapnya.

Soal harga batu bara, kata dia, selama perekonomian global masih seperti saat ini, harganya tidak akan stabil. Untuk jangka pendek, saham-saham batu bara, memang masih berpeluang rebound yang bersamaan dengan mulai rebound-nya harga batu bara. “Tapi, saya tidak melihat, saham-saham batu akan mengalami rally panjang,” ungkapnya.

Pasalnya, kata dia, tidak ada berita atau katalis yang bisa membuat saham-saham batu bara naik dengan sustainable. “Rebound saham-saham batu bara belakangan ini hanya karena saham-saham tersebut sudah turun sangat dalam sehingga secara valuasi Price Earnings Ratio (PER) menjadi menarik,” papar Lanang.

Dia menegaskan, tidak ada faktor fundamental yang kuat yang bisa mendongkrak harga sahamnya.“Karena itu, investor tinggal memilih perusahaan yang paling efisien, track record-nya positif, punya kontrak batu bara yang sudah jelas, dan masih terus mencetak laba dan harga sahamnya, secara valuasi sudah murah,” pujarnya.

Tentu, kata dia, ada saham-saham batu bara yang masih masuk dalam kategoritersebut meskipun kalau dilihat secara historis, semua saham batu bara sudah murah.Dia tidak merekomendasikan untuk saham BUMI, karena menurutnya, terlalu banyak variable yang harus difaktorkan untuk memilih saham ini. “Saya lebih memilih ITMG, PTBA, dan HRUM,” imbuhnya.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1881902/track-record-jadi-acuan-pilih-saham-batu-bara

Senin, 02 Juli 2012

PTBA sudah buyback 9,678 juta saham miliknya


JAKARTA. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa waktu lalu dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan untuk membeli kembali (buyback) saham miliknya. Salah satunya adalah PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).

Menurut Sekretaris Perusahaan PTBA, buyback saham dilakukan secara bertahap pada periode 23 Desember 2011 hingga 30 Juni 2012. Berdasarkan Keterbukaan Informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah saham yang sudah berhasil dibeli kembali oleh PTBA mencapai 9,678 juta atau setara dengan 8,40% dari total saham.

Adapun kisaran harga buyback ini adalah Rp 13.135 hingga Rp 16.325. Jika dikalkulasikan, harga pembelian rata-rata buyback saham ini sebesar Rp 14.618 per saham.

Saat ini, sisa biaya pembelian kembali saham PTBA adalah Rp 1,903 triliun.

http://investasi.kontan.co.id/news/ptba-sudah-buy-back-9678-juta-saham-miliknya/2012/07/03