DISCLAIMER
This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).
Jumat, 13 Juli 2012
Track Record Jadi Acuan Pilih Saham Batu Bara
INILAH.COM, Jakarta – Meski ada potensi technical rebound, saham-saham batu bara diprediksi tidak akan mengalami rally panjang. Karena itu, track record emiten menjadi kuncinya. Tiga saham pun dijagokan.
Pada perdagangan Kamis (12/7/2012)saham PT Indo Tambang Raya (ITMG) ditutupturun Rp800 (2,1%) ke angka Rp37.200; PT Bukit Asam (PTBA) melemah Rp550 (3,55%) ke Rp14.900; PT Bumi Resources (BUMI) ditutup turun Rp30 (2,67%) ke angka Rp1.090;
PT Harum Energy (HRUM) turun Rp200 (3,41%) ke posisi Rp5.650; PT Adaro Energy (ADRO) turun Rp50 (3,52%) ke Rp1.370; dan PT Borneo Lumbung Energi (BORN) turun Rp10 (1,85%) ke Rp530 per saham.
Investment Analyst dari Syailendra Capital, Lanang Trihardian mengatakan, untuk jangka pendek, pergerakan saham-saham di sektor batu bara mengekor sentimen eksternal. Selain itu, ada harapan harga batu bara menguat dari level saat ini US$88,6 per metrik ton berdasarkan harga mingguan di Newcastle.
Tapi,dia mengingatkan, pasar tidak bisa berharap harga batu bara bisa mencapai US$120 per metrik ton seperti 2011.“Meski begitu, saya yakin, emiten-emiten di sektor batu bara masih mencatatkan laba bersih yang positif,” katanya kepada INILAH.COM.
Karena itu, lanjut dia, investor lebih baik fokus pada kinerja fundamental emiten di sektor ini. “Perusahaan-perusahaan batu bara Indonesia dengan harga batu bara saat ini, masih mencatatkan keuntungan meskipun harga batu bara tidak setinggi 2011,” papar dia.
Lanang menilai, penurunan harga batu bara ke level saat ini, bukanlah masalah yang berartidan semata siklus bisnis setelah batu bara meroket ke atas US$130-an tahun lalu. “Suatu hal yang wajar, harga komoditas turun naik,” ungkapnya.
Soal harga batu bara, kata dia, selama perekonomian global masih seperti saat ini, harganya tidak akan stabil. Untuk jangka pendek, saham-saham batu bara, memang masih berpeluang rebound yang bersamaan dengan mulai rebound-nya harga batu bara. “Tapi, saya tidak melihat, saham-saham batu akan mengalami rally panjang,” ungkapnya.
Pasalnya, kata dia, tidak ada berita atau katalis yang bisa membuat saham-saham batu bara naik dengan sustainable. “Rebound saham-saham batu bara belakangan ini hanya karena saham-saham tersebut sudah turun sangat dalam sehingga secara valuasi Price Earnings Ratio (PER) menjadi menarik,” papar Lanang.
Dia menegaskan, tidak ada faktor fundamental yang kuat yang bisa mendongkrak harga sahamnya.“Karena itu, investor tinggal memilih perusahaan yang paling efisien, track record-nya positif, punya kontrak batu bara yang sudah jelas, dan masih terus mencetak laba dan harga sahamnya, secara valuasi sudah murah,” pujarnya.
Tentu, kata dia, ada saham-saham batu bara yang masih masuk dalam kategoritersebut meskipun kalau dilihat secara historis, semua saham batu bara sudah murah.Dia tidak merekomendasikan untuk saham BUMI, karena menurutnya, terlalu banyak variable yang harus difaktorkan untuk memilih saham ini. “Saya lebih memilih ITMG, PTBA, dan HRUM,” imbuhnya.
http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1881902/track-record-jadi-acuan-pilih-saham-batu-bara
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar