DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).
Tampilkan postingan dengan label BUMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMI. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Morning Dew - 16 October 2012

Market Preview

Sebanyak 125 saham berakhir menguat sedangkan 121 saham lainnya berakhir melemah. Sementara itu, 111 saham ditutup pada posisi stagnan pada harga penutupan hari Jumat lalu.


Sektor aneka industri mencatatkan kinerja terburuk pada hari Senin dengan penurunan sebesar 1.1%, diikuti oleh sektor pertambangan yang melemah 0.97%. Tiga sektor lainnya melemah tipis yaitu pertanian (-0.19%), infrastruktur (-0.12%) dan manufaktur (-0.01%). Sektor yang mencatatkan kenaikan terbesar adalah sektor industri dasar (+0.77%), sektor pertambangan (+0.67%) dan sektor properti (+0.35%).

Jakarta Composite Index, LQ-45 dan IDX 30 masing-masing bergerak terbatas dengan posisi akhir JCI naik 0.05%, sementara LQ-45 menguat 0.08%. Sementara itu, IDX30 berakhir stagnan.

Pergerakan bursa regional cenderung mixed dengan indeks Nikkei berakhir naik 0.51%, demikian pula dengan indeks Hang Seng yang naik tipis 0.06%. Sebaliknya, indeks KOSPI berakhir melemah 0.4%.

Di antara 10 saham terekomendasi, kenaikan terbesar pada hari Senin dicapai oleh ADHI (+2.75%) sementara itu MDLN tergerus 1.72% setelah mengalami penurunan menjadi 570. ARNA, ASGR CLPI dan ESSA berakhir stagnan.

Selanjutnya, di bursa Eropa dan Amerika perdagangan juga berlangsung positif hingga saat berakhirnya sesi perdagangan di New York indeks Dow ditutup naik 95.38 poin atau 0.72%, indeks S&P 500 menguat 0.81% dan indeks NASDAQ menanjak 0.66%. Sama halnya yang dialami bursa di Eropa, indeks FTSE dan DAX masing-masing juga ditutup positif naik 0.21% dan 0.4%.

Positifnya sentimen pada sesi perdagangan di Eropa dan Amerika bersumber pada data ekonomi dan hasil laporan earnings yang berhasil melebihi ekspektasi para analis.

Laporan keuangan Citigroup dikabarkan berhasil melebihi ekspektasi pasar, sementara Texas Instruments menguat 3.5% setelah dikabarkan bahwa Amazon.com berencana untuk membeli divisi mobile unit chipnya. Saham Apple yang sebelumnya terpuruk 0.9% berbalik naik 0.8%, sehingga memberikan dampak positif bagi sentimen para investor.

Data penjualan ritel di bulan September dilaporkan menanjak 1.1%, sedikit melambat dari 1.2% yang dicatatkan pada periode Agustus lalu namun merupakan angka tertinggi sejak Oktober 2010 lalu dan juga melebihi konsensus pasar sebelumnya. Di luar barang-barang seperti bahan bakar dan otomotif, penjualan ritel naik 0.9% sementara untuk penjualan ritel di luar penjualan otomotif terjadi peningkatan sebesar 1.1%.

Sementara itu, data empire manufacturing index untuk bulan Oktober menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur masih berada di zona negatif yaitu di -6.16, meskipun demikian angka ini masih lebih baik daripada pada periode sebelumnya (-10.41), namun berada di bawah ekspektasi para ekonom yang memperkirakan indeks di -4. 

Awal pekan ini diwarnai oleh dilangsungkannya dua IPO. PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) menawarkan sahamnya di rentang harga Rp360-Rp600 yang setara dengan PE Ratio antara 9.5x-15x. Jumlah saham yang akan dilepas maksimal 1.36 miliar saham biasa atau sebanding dengan 40.03% dari modal ditempatkan dan disetor dengan nilai nominal Rp100. Dari dana yang diperoleh dari IPO ini nantinya sebanyak 58% akan digunakan untuk ekspansi armada sedangkan 32% akan digunakan untuk pembayaran pinjaman. Sebanyak 10% akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan jaringan usaha. Perusahaan yang bergerak di bisnis penyewaan mobil untuk korporasi ini dijadwalkan akan melakukan penawaran awalnya antara 15-25 Oktober dengan tanggal efektif 2 November, distribusi elektronik tanggal 9 November dan masa penawaran antara 6-7 November. Joint underwriter untuk ASSA adalah Bahana Securites dan Buana Capital.

IPO kedua adalah PT Baramulti Suksessarana Tbk. yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Saham perseroan ditawarkan pada kisaran harga Rp1600 hingga Rp2100. Untuk acuan, PE ratio dihitung berdasarkan angka proyeksi 2013 yaitu 8.6 hingga 11.5x. Sebanyak 261.5 juta saham akan dilepas pada IPO ini dimana jumlah ini sebanding dgn 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga nilai nominal Rp100. Rencananya, hasil penawaran saham ini akan digunakan untuk pelunasan pinjaman bank (34.7%) dan sebesar 10.9% akan digunakan untuk capex. Sementara itu, 45.8% akan digunakan untuk penyertaan modal pada entitas anak dan 8.6% untuk pengembangan sarana dan prasarana. Leading underwriter untuk Baramulti adalah CIMB Securities Indonesia.

Sementara itu, perkembangan terbaru seputar BUMI ditandai dengan mundurnya Nat Rothschild dari dewan direksi Bumi Plc. Menurut Nat, dirinya akan terus ‘melawan’ grup Bakrie dari luar karena dia telah kehilangan kepercayaannya terhadap dewan direksi Bumi Plc. Sebelumnya, grup Bakrie menawarkan untuk melakukan share swap dan stock buyback sahamnya di Bumi Plc. untuk menyelesaikan masalah yang melibatkan Bumi Plc., BUMI dan juga menyeret BRAU. Rothschild telah menyampaikan surat pengunduran dirinya pada pimpinan Bumi Plc. yaitu Samin Tan, namun Tan masih belum dapat dihubungi hingga saat ini.

Memasuki sesi perdagangan hari Selasa, Jakarta Composite Index (JCI) diperkirakan akan kembali menguat sebagai respon terhadap positifnya data ekonomi dan korporasi dari Amerika. Respon pasar terhadap perseteruan antara Rothschild dan Bakrie juga menjadi salah satu isu yang dapat berpengaruh terhadap pergerakan indeks. Secara keseluruhan, indeks diperkirakan akan melanjutkan penguatannya hingga menguji level resistance berikutnya di 4324.79 yang jika berhasil terlewati akan membuka jalan untuk penguatan selanjutnya ke 4335. Di sisi support, indeks diperkirakan akan ditopang oleh support di 4,242.


Selasa, 02 Oktober 2012

Morning Brief - 3 Oktober 2012

Market Preview


Setelah sempat tertekan oleh isu dari Spanyol, indeks saham-saham di Amerika berbalik rebound seiring dengan terjadinya rebound pada saham Apple Inc. (AAPL) pada saat-saat terakhir menjelang penutupan sesi perdagangan hari Selasa.

Indeks FTSE dan DAX berakhir melemah masing-masing 0.19% dan 0.28%, sedangkan indeks Dow masih berada di zona merah dengan penurunan 0.24% sementara indeks S&P 500 dan NASDAQ ditutup menguat 0.09% dan 0.21%.

Pernyataan dari PM Spanyol Mariano Rajoy menjadi batu sandungan bagi sentimen investor setelah dirinya mengatakan tidak memiliki rencana untuk mengajukan permintaan bailout tambahan untuk Spanyol dalam waktu dekat. Hal ini berlawanan dengan spekulasi di pasar bahwa Spanyol saat ini tengah menyiapkan permintaan bailout. Hari Selasa kemarin para pemimpin regional di Spanyol tengah bertemu untuk membicarakan apakah Spanyol akan mengajukan permintaan bailout atau tidak.

Sementara itu di Australia, bank sentral Australia Reserve Bank of Australia secara tak terduga memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin hingga menjadi 3.25%, terendah sejak 2009.

Dari paparan publik BUMI dikabarkan bahwa BUMI kemungkinan akan menjual salah satu anak usahanya dan melakukan aksi korporasi rights issue sebagai bagian dari rencana percepatan pelunasan utang perseroan.

PT Fajar Bumi Sakti, menurut CorSec Dileep Srivastava tengah dipertimbangkan untuk dijual. Sedangkan mengenai keterkaitan BUMI dengan upaya penyelidikan yang tengah dilakukan oleh Bumi Plc., BUMI mengatakan masih belum mendapat kejelasan dan menambahkan bahwa laporan keuangan BUMI selalu mengikuti aturan standar pemerintah Indonesia. BRAU yang tersangkut juga dalam masalah ini dalam paparan publik yang terpisah juga mengatakan bahwa pihaknya belum mendapatkan keterangan dari Bumi Plc. dan juga menyebutkan bahwa BRAU tidak terlibat dalam masalah ini.

Nathan Rothschild, salah seorang pendiri Bumi Plc. yang juga merupakan pemilik 29% dari saham BUMI tengah melakukan penyelidikan yang terfokus pada dana pengembangan ekstensi yang terdapat di BUMI dan juga terhadap aset dari BRAU yang disebutkan mengalami mark-down hingga nol pada salah satu laporan keuangan Bumi Plc. untuk periode yang berakhir 31 Desember lalu.

Isu Spanyol, hasil paparan publik BRAU dan BUMI dan reboundnya bursa Amerika semalam akan menjadi katalis pasar pada hari Rabu ini. Dampak dari isu Spanyol diperkirakan akan negatif sementara dampak dari pergerakan pasar Eropa dan Amerika diperkirakan cenderung mixed. Hasil paparan publik BUMI dan BRAU cenderung tidak memberikan informasi yang baru dan hal ini nantinya akan lebih dipengaruhi oleh hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Nat Rothschild terhadap BUMI (dan BRAU).

Pengganti MNCN yang keluar dari daftar rekomendasi harian setelah mencapai exit pointnya di 2,675 akan ditentukan kemudian. SMCB juga terus mendekat ke target akhirnya di 3,175, sama halnya dengan ARNA yang menyisakan target di 1,150.

Rabu ini, indeks diperkirakan bergerak mixed dengan support di 4190-4200 sementara resistance berada di 4250-4273 hingga selanjutnya di 4335.


Senin, 24 September 2012

Morning Brief - 25 September 2012

Market Preview


Bursa saham Eropa dan Amerika kembali berakhir melemah pada sesi perdagangan Senin. Perbedaan pendapat antara Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande berkenaan dengan pembentukan badan pengawasan perbankan Eropa menjadi salah satu katalis negatif yang mengganjal kinerja bursa saham Eropa dan Amerika.

Ketiga indeks utama Amerika berakhir melemah dengan indeks Dow Jones turun 0.15%, indeks S&P dan NASDAQ juga tergerus masing-masing 0.22% dan 0.6%. Di Eropa, indeks FTSE dan DAX masing-masing turun 0.24% dan 0.52%.

Di sesi Asia, hanya indeks KOSPI yang berhasil lolos dari zona merah dengan kenaikan tipis 0.05%, sedangkan indeks Hang Seng dan Nikkei berakhir melemah masing-masing 0.19% dan 0.45%.

Di bursa domestik, penyelidikan terhadap BUMI oleh Nat Rothschild sehubungan dengan penempatan aset BUMI di BRAU menjadi pemicu terhempasnya saham-saham pertambangan pada hari Senin. BUMI sendiri kembali terpuruk beserta saham-saham dari grup Bakrie lainnya.

Menjelang sesi perdagangan hari Selasa, kinerja Jakarta Composite Index (JCI) akan cenderung didominasi oleh perkembangan terakhir seputar isu BUMI ini.

Mantan CEO Bumi Plc. yaitu Ari Hudaya pada hari Senin mengundurkan diri dari dewan direksi Bumi Plc. Hudaya juga menjabat sebagai presdir di BUMI. Tidak ada penjelasan mengenai pengunduran dirinya sejauh ini.

Penyelidikan terhadap BUMI berkenaan dengan penghapusan dana pengembangan dan aset eksplorasi senilai $637 juta dari laporan keuangan tertanggal 31 Desember 2011. Penghapusan ini dilakukan setelah auditor dari PricewaterhouseCoopers LLP tidak dapat melakukan verifikasi terhadap aset-aset yang bersangkutan. Untuk melakukan penyelidikan independen ini telah ditunjuk biro hukum berbasis di London dan diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu untuk penyelesaiannya. Penyelidikan ini ditujukan pada dana pengembangan “ekstensif” di BUMI dan juga terhadap aset yang terdapat di BRAU yang di-mark-down menjadi nol di sisi Bumi Plc.

Penurunan Senin diperkirakan masih berlanjut karena masalah BUMI masih menjadi faktor negatif bagi sentimen pasar secara keseluruhan ditambah dengan melemahnya indeks saham Eropa dan Amerika. Diperkirakan indeks akan menguji level support berikutnya di 4169. Resistance berada di 4253 dan 4273.



Click here to download the full update (PDF)

Market Wrap - 24/09/2012

Market Review


Berita dilakukannya pemeriksaan terhadap BUMI oleh salah satu pemegang saham utamanya yaitu Bumi Plc. (29%) menggulingkan Jakarta Composite Index (JCI) pada awal pekan ini.

Seiring dengan rontoknya saham BUMI beserta saham-saham grup Bakrie lainnya, secara sektoral hanya sektor properti yang berhasil lolos dari zona merah. Sektor properti mencatatkan kenaikan 0.31% sedangkan sembilan sektor lainnya mengalami penurunan dengan dipimpin oleh sektor pertambangan (-3.56%). Selain itu, sektor barang konsumsi juga terpuruk 2.03% dan sektor perdagangan melemah 1.37%.

Sebanyak 171 saham melemah, sedangkan 86 saham berhasil menguat. Sisanya sebanyak 94 saham ditutup stagnan pada harga penutupan hari Jumat lalu.

Posisi asing sebaliknya berada pada net buy senilai IDR235.35 miliar.

Pada penutupan JCI melemah 1.03%, indeks LQ-45 dan IDX30 terkoreksi masing-masing 1.36%. Di tingkat regional, indeks Nikkei dan Hang Seng juga berakhir melemah yaitu masing-masing 0.45% dan 0.19% sedangkan indeks KOSPI berhasil naik tipis 0.05%.

Titik intraday terendah untuk JCI pada hari ini berada di 4190, sempat menembus support terdekatnya di 4194 sehingga hal ini membuka potensi penurunan lebih lanjut hingga 4169. Di sisi resistance, indeks akan menghadapi resistance di 4245 dan 4272 sebelum membuka peluangnya untuk menanjak hingga 4300.

Badai yang menghantam BUMI kembali berlanjut setelah salah seorang pendiri Bumi Plc. yaitu Nathaniel Rothschild memulai penyelidikan secara independen terhadap transaksi yang dilakukan oleh BUMI dan juga aset-aset yang berada di Berau Coal yang disebut-sebut mengalami mark-down menjadi nol pada pembukuan Bumi Plc. Pemberitaan ini juga berdampak pada saham-saham grup Bakrie lainnya seperti BTEL (-16.85%), ENRG (-12.5%) dan ELTY (-11.86%) serta UNSP (-8.9%). Sektor pertambangan juga terpuruk tajam akibat pemberitaan yang sama. BRAU yang tersangkut dalam perkara ini juga melemah hingga 9.27%.

Di antara sepuluh saham terekomendasi, ASGR dan DART berhasil lolos dari zona merah dan menguat masing-masing 2.92% dan 4.62%. ASGR mencapai 1460 sebelum akhirnya ditutup di 1410 sedangkan DART bertahan di zona hijau setelah sempat mencapai level tertinggi di 710. Saham-saham yang stagnan hari ini antara lain BBKP, ESSA, SMCB dan TRIM. Di zona merah, KLBF, ARNA dan MNCN masing-masing melemah 1.16% , 1.08% dan 1.01%.

Faktor Eropa juga menjadi katalis pada hari Senin ini setelah dilaporkan bahwa terdapat perbedaan pendapat antara Kanselir Angela Merkel dan Presiden Francois Hollande sehubungan dengan rencana pembentukan lembaga pengawasan bersama atas sektor perbankan Eropa. Merkel dilaporkan menolak proposal Hollande yang mengatakan bahwa aktivasi lembaga ini akan lebih baik apabila dilakukan lebih awal. Merkel berpendapat bahwa perlu dilakukan persiapan yang menyeluruh sebelum dilakukan aktivasi dari lembaga ini. Hal ini menjadi batu sandungan bagi saham-saham di Eropa yang hingga sore ini masih cenderung berada di zona merah dan juga ikut menekan kinerja saham-saham domestik.

Pergerakan indeks Dow Jones malam nanti akan menentukan apakah melemahnya indeks akan kembali berlanjut pada Selasa besok.

Rabu, 29 Agustus 2012

Market Wrap - 29/08/2012

Market Review


Jakarta Composite Index (JCI) berakhir melemah bersamaan dengan indeks LQ-45 dan IDX30 pada sesi perdagangan hari Rabu. JCI melemah 1.2% sementara indeks LQ-45 dan IDX30 turun masing-masing 1.36% dan 1.37%. Di tingkat regional, tiga indeks utama Asia berakhir mixed dengan indeks Nikkei dan KOSPI berakhir menguat 0.4% dan 0.64% sementara indeks Hang Seng melemah tipis 0.12%.

Hanya dua sektor yang berhasil berakhir menguat: sektor barang konsumsi yang naik 1.03% dan sektor infrastruktur yang menguat 0.29%. Sektor industri dasar melemah tajam 2.51% diikuti oleh sektor keuangan yang turun 2.18%. Sektor pertambangan juga masih tertekan dan terpuruk 2.03%.

Sebanyak 218 saham mengalami penurunan, sementara 58 saham berakhir naik. Sisanya sebanyak 85 saham ditutup stagnan, sama dengan harga penutupan pada sesi hari Selasa kemarin.

Posisi asing pada hari ini berakhir pada kondisi net sell senilai 280.78 miliar.

Dari sepuluh saham terekomendasi, hanya MNCN yang berhasil bertahan pada level penutupan hari Selasa. Sisanya sebanyak sembilan saham ditutup melemah dengan BMRI terdesak hingga mencapai level stopnya setelah turun 4.29%. CPIN mencatat kinerja terburuk kedua dengan penurunan sebesar 3.51% dan DILD pada posisi ketiga setelah tergerus 3.23%. Berdasarkan harga penutupan Rabu, tiga saham saat ini berada pada posisi kritis: TRIM, CPIN, dan DILD.

Penurunan hari Rabu ini salah satunya didorong oleh buruknya sentimen terhadap saham BUMI yang kembali tergerus 11.84% menjadi 670. Kekhawatiran pasar akan prospek saham-saham grup Bakrie menjadi katalis utama penurunan tujuh saham Bakrie beberapa waktu terakhir ini. BNBR, ELTY dan DEWA saat ini telah berada di level 50, sementara ENRG di 92, UNSP di 131 dan BTEL di 136.

Buruknya sentimen lokal disertai oleh netralnya kondisi sentimen di pasar global dimana pasar tengah menantikan hasil pertemuan para banker dunia di Jackson Hole, Wyoming Jumat mendatang. Namun, dikhawatirkan bahwa Ben Bernanke tidak akan menyampaikan statement yang baru mengenai kebijakan moneter di Amerika. Diperkirakan Federal Reserve baru akan mengumumkan kebijakan baru berupa stimulus tambahan, jika ada, pada pertemuan FOMC September mendatang. Di Eropa, sentimen pasar juga cenderung netral hingga September saat Bank Sentral Eropa mulai mengadakan pertemuan rutinnya kembali dan juga saat Pengadilan Tinggi Jerman menyampaikan keputusannya mengenai partisipasi Jerman dalam program austerity di Eropa.

Hingga sore ini kinerja indeks DAX dan FTSE masih berada dalam zona negatif sementara kontrak berjangka S&P yang sebelumnya sempat menguat, kembali berfluktuasi di sekitar posisi awal.


Senin, 13 Agustus 2012

Morning Brief - 14 Agustus 2012

Market Preview


Data ekonomi yang kurang memuaskan, penurunan harga komoditas dan juga stagnannya perkembangan penyelesaian krisis fiskal di Eropa serta aksi profit-taking menjelang liburan mendatang menjadi faktor-faktor yang menekan kinerja indeks saham global pada awal pekan ini.

Seluruh indeks acuan dalam negeri melemah seiring dengan juga melemahnya indeks saham regional seperti Nikkei, Hang Seng dan KOSPI. Sementara itu di Eropa, baik indeks FTSE maupun DAX juga turut melemah akibat minimnya katalis positif yang ada.

Demikian pula dengan indeks Dow Jones yang melemah 0.29% serta indeks S&P 500 yang turun 0.13%. Hanya indeks NASDAQ yang berhasil mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0.05% pada sesi perdagangan hari Senin.

Data pertumbuhan ekonomi yang baru-baru ini dirilis oleh Jepang menunjukkan bahwa tak hanya China, Eropa dan Amerika yang tengah dilanda perlambatan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan, namun Jepang pun turut dilanda perlambatan setelah pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua melambat menjadi 1.4%, jauh dari perkiraan para analis yang memprediksikan angka pertumbuhan sebesar 2.3%.

Harga-harga komoditi yang sebelumnya melesat karena adanya spekulasi dikeluarkannya stimulus oleh berbagai bank sentral dunia akhirnya juga terkoreksi. Khusus untuk komoditi pertanian, terjadinya kekeringan yang tengah melanda Amerika turut memicu kenaikan harga-harga komoditi pertanian.

Saham BUMI terpukul 6.2% pada perdagangan Senin kemarin setelah UBS AG menurunkan rekomendasinya terhadap saham emiten batubara ini dari BUY menjadi SELL dengan target harga saat ini di Rp.800. Di sisi lain, Standard and Poor’s juga menurunkan peringkat kredit BUMI dari BB menjadi BB- dengan outlook negatif. Menurut S&P, dalam 12 bulan mendatang, diperkirakan kinerja keuangan BUMI akan tetap tertekan terutama akibat tingkat produksi dan profitabilitas perseroan yang berada di bawah ekspektasi yang berdampak pada arus kas BUMI dalam 18 bulan mendatang. Absennya pengurangan utang yang signifikan dalam hal jumlah dan waktu juga menjadi faktor negatif bagi outlook kredit BUMI. Menurut S&P, outlook ini dapat direvisi naik apabila struktur kapital dan arus kas perseroan membaik secara signifikan, seperti apabila utang perseroan sebesar US$500 juta dapat dilunasi dan juga perseroan dapat mencapai tingkat produksi dan profitabilitas yang melampaui ekspektasi S&P.

BUMI yang memproduksi batubara juga terkena imbas dari faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi di China yang diasumsikan berdampak negatif terhadap permintaan batubara.

Memasuki sesi perdagangan hari Selasa, lemahnya kinerja bursa global pada hari Senin diprediksi akan berlanjut mengingat minimnya katalis positif baik dari dalam maupun luar negeri. Indeks diperkirakan bergerak antara 4080-4150 dengan potensi melemah hingga 4060 apabila support di 4080 gagal bertahan. Di sisi resistance, kenaikan melewati 4150 tetap diperkirakan sulit tercapai saat ini, namun apabila dapat terlewati maka indeks diperkirakan akan melaju menuju resistance berikutnya di 4234.7.


Dirundung Sentimen Negatif, Saham BUMI Jatuh


INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun tajam menyusul UBS AG menurunkan rekomendasi dari buy (beli) menjadi sell (jual) dan diturunkannya rating kredit BUMI oleh Standard & Poors rating Services (S&P).

Pada perdagangan hari ini, saham BUMI terpangkas 6,2 persen ditutup di level Rp1.060 dari perdagangan sebelumnya Rp1.120, atau level terendah sejak 25 Juni 2012.

Analis UBS, Andreas Bokkenheuser dalam laporannya menyatakan, UBS memangkas harga saham Bumi turun 70 persen menjadi Rp800. Penurunan ini tak lepas dari melemahnya permintaan batubara termal untuk pembangkit tenaga uap di China akibat tekanan krisis global.

Hal ini, kata Andreas, membuat harga batu bara di Australia's Newcastle turun 23 persen sepanjang tahun ini di tengah melambatnya perekonomian China, sebagai imbas krisis global.

"Kami perkirakan permintaan batubara dari China akan menurun, dan Bumi akan melanjutkan kerugiannya pada kuartal I-2012 hingga tahun 2013, dengan penurunan harga batubara tersebut," kata Andreas, yang dikutip dari bloomberg.com.

Penurunan harga saham perseroan juga tak lepas dari pernyataan S&P yang memangkas peringkat utang Bumi menjadi BB- dari sebelumnya BB dengan outlook negatif menyusul melemahnya arus kas perusahaan akibat utang yang menumpuk.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1894059/dirundung-sentimen-negatif-saham-bumi-jatuh

Sabtu, 11 Agustus 2012

Bumi Resources rugi setelah pajak US$ 111 juta


JAKARta. Rapor Bumi Plc, induk usaha PT Bumi Resources Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk, masih merah di semester I-2012. Di periode tersebut, perusahaan yang mencatatkan sahamnya di Bursa London ini menderita kerugian yang diatribusikan ke pemilik entitas induk senilai US$ 117 juta. Jumlah ini menyusut 62% daripada kerugian di semester I-2011 senilai US$ 308 juta.
Kendati menderita kerugian, Bumi Plc mencatatkan pertumbuhan laba operasional setinggi 106,45% year-on-year (yoy) menjadi US$ 128 juta pada semester I-2012.
Chief Executive Officer Bumi Plc, Nalin Rathod, mengungkapkan kinerja keuangan Bumi Plc dipengaruhi kerugian di tingkat anak usaha. Terutama karena pembayaran bunga yang cukup tinggi dan kerugian turunan dari Bumi Resources.
"Selain itu, harga batubara termal juga menurun secara signifikan selama beberapa bulan terakhir, bersama dengan harga logam mineral lainnya. Ini mencerminkan tantangan perekonomian global," kata Nalin, dalam laporan keuangan Bumi Plc yang dirilis Kamis (9/8) lalu.
Bumi Plc melaporkan, selama semester pertama tahun ini, Bumi Resources menderita kerugian setelah pajak mencapai US$ 111 juta. Padahal di semester I-2011, Bumi Resources masih mencatatkan keuntungan setelah pajak senilai US$ 41 juta. Manajemen Bumi Resources juga berupaya memangkas tumpukan utang, salah satu caranya dengan mencairkan investasi dan aset-aset non-inti. Emiten berkode BUMI ini memang berniat mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai US$ 600 juta pada Oktober 2012.
Kenaikan kinerja operasional Bumi Plc berasal dari pertumbuhan penjualan Berau Coal Energy dan Bumi Resources. Selama paruh pertama tahun ini, Berau Coal dan Bumi Resources mencatatkan kenaikan volume penjualan batubara masing-masing 6,67% dan 9,36% menjadi 9,8 juta ton dan 32,7 juta ton. Tapi di periode yang sama, rata-rata harga jual batubara Bumi Resources menurun 3,61% yoy menjadi US$ 88 per ton. Sedangkan rata-rata penjualan batubara Berau Coal meningkat 2,68% yoy menjadi US$ 76,6 per ton.
BUMI memproyeksikan produksi batubara sepanjang tahun ini mencapai 75 juta ton, atau meningkat 13,64% daripada produksi 2011 yang sebanyak 66 juta ton. Adapun Berau Coal Energy (BRAU) menargetkan pertumbuhan produksi 0%-10% menjadi 20 juta-22 juta ton selama 2012.
Jhon Veter, Managing Director Investa Saran Mandiri, perusahaan pengelola dana, berpendapat investor sebaiknya menjauhi saham-saham Grup Bakrie, termasuk BUMI. Menurut dia, dengan tumpukan utang yang cukup besar, saham BUMI sulit divaluasi secara discounted cash flow. "Tekanan jual saham BUMI akan semakin meningkat di periode Agustus-September ini," ungkap Jhon.
Dia pun merekomendasikan jual saham BUMI dengan target Rp 900 per saham dalam dua bulan ke depan. Harga saham BUMI, Jumat (10/8), di posisi Rp 1.130 per saham, atau sudah merosot sedalam 92,48% sejak awal tahun (year to date).

Sabtu, 21 Juli 2012

Bumi Resources meraih return 6% dari KPD Recapital


JAKARTA. Manajemen PT Bumi Resources Tbk mulai membeberkan identitas dana investasinya di Recapital Asset Management. Termasuk imbal hasil yang mereka terima setiap tahun.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi, Dileep Srivastava, dalam penjelasannya ke Bursa Efek Indonesia mengatakan, bentuk penempatan dana di Recapital merupakan kontrak pengelolaan dana (KPD). "Return yang dicapai maksimal sebesar 6% per tahun," ujar dia, Kamis (19/7).
Sedangkan komisi yang harus dibayar perseroan kepada Recapital adalah 0,25%. Mengacu ke laporan keuangan Bumi per 31 Maret 2012, nilai total dana yang tersimpan di Recapital mencapai US$ 215,69 juta. Pada 27 Agustus 2008, emiten anggota kelompok usaha Bakrie ini menandatangani kontrak jasa pengelolaan dana dengan Recapital Asset Management untuk jangka waktu enam bulan.
Pengelola Bumi memberi kewenangan kepada Recapital untuk mengelola dana sampai dengan US$ 350 juta. Perjanjian tersebut kemudian diperpanjang sampai 27 Agustus 2012.
Pada 2 September 2009, Bumi menandantangani kontrak pengelolaan dana kedua dengan tenor enam bulan. Dalam kontrak ini, perseroan memberikan wewenang kepada Recapital untuk mengelola dana hingga mencapai US$ 50 juta. Selanjutnya, pada 28 Februari 2011, perjanjian tersebut diperpanjang sampai 27 Agustus 2012.
Jadwal penarikan dana investasi di Recapital ini mengalami dua kali kemunduran. Semula manajemen Bumi berniat menarik dana dari Recapital pada kuartal I-2012. Tapi rencana itu tidak terealiasasi.
Manajemen beralasan penarikan disesuaikan dengan kebutuhan dana, yaitu Juni 2012. Tapi pada Juni 2012 pun tidak ada pencairan dana. Bumi berkilah penarikan belum terlaksana lantaran kondisi pasar tidak menentu. Hal itu bisa menyebabkan pengembalian dana tidak maksimal.
Di awal Juli 2012, induk usaha Bumi Resources, Bumi Plc, pernah mengumumkan pencairan dana investasi Bumi di Recapital akan dilaksanakan pada 27 Agustus 2012. Ini sesuai berakhirnya masa pengelolaan dana.
BEI sempat bertanya kepada manajemen Bumi, apakah perseroan terkena penalti jika menarik dana investasi di Recapital sebelum berakhirnya perjanjian. "Tidak ada penalti yang harus dibayar dalam pencairan dana," kata Dileep.
Bumi berniat menggunakan dana hasil investasi tersebut untuk mendukung percepatan penyelesaian utang senilai US$ 600 juta kepada China Investment Corp (CIC). Kewajiban itu akan dibayarkan pada Oktober 2012. Utang tersebut adalah bagian dari kewajiban Bumi terhadap CIC senilai US$ 1,9 miliar. Tahun lalu perseroan telah membayar utang tahap pertama senilai US$ 600 juta. Harga saham Bumi, Jumat (20/7), turun 0,91% menjadi Rp 1.090 per saham.

Jumat, 20 Juli 2012

Inilah Penyebab Naiknya Beban Pendapatan BUMI


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjelaskan kenaikan beban pokok pendapatan hingga 18,58% pada kuartal I 2012 karena kegiatan pengupasan lapisan tanah dan kenaikan harga bahan bakar.

Dalam keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (20//7/2012) dijelaskan total produksi batu bara untuk kuartal I mencapai 15,9 juta ton. Produksi ini naik dari 13,9 juta ton pada kuartal I 2011.

Peningkatan pendapatan perseroan ditopang kenaikan penjualan batu bara dan kenaikan harga jual batu bara perseroan. Selama kuartal I 2012, perseroan mencapai penjualan sebesar 15,9 juta ton dan rata-rata harga jual US$92,8 per ton. Atau meningkat dari 13,9 juta ton dan US$87,7 per ton pada periode yang sama tahun lalu.

Saham BUMI pada perdagangan hari ini pukul 14:20 WIB stagnan di Rp1.100 dengan volume 19.169 saham senilai Rp10,5 miliar sebanyak 435 kali transaksi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1884788/inilah-penyebab-naiknya-beban-pendapatan-bumi

Jumat, 13 Juli 2012

Track Record Jadi Acuan Pilih Saham Batu Bara


INILAH.COM, Jakarta – Meski ada potensi technical rebound, saham-saham batu bara diprediksi tidak akan mengalami rally panjang. Karena itu, track record emiten menjadi kuncinya. Tiga saham pun dijagokan.

Pada perdagangan Kamis (12/7/2012)saham PT Indo Tambang Raya (ITMG) ditutupturun Rp800 (2,1%) ke angka Rp37.200; PT Bukit Asam (PTBA) melemah Rp550 (3,55%) ke Rp14.900; PT Bumi Resources (BUMI) ditutup turun Rp30 (2,67%) ke angka Rp1.090;

PT Harum Energy (HRUM) turun Rp200 (3,41%) ke posisi Rp5.650; PT Adaro Energy (ADRO) turun Rp50 (3,52%) ke Rp1.370; dan PT Borneo Lumbung Energi (BORN) turun Rp10 (1,85%) ke Rp530 per saham.

Investment Analyst dari Syailendra Capital, Lanang Trihardian mengatakan, untuk jangka pendek, pergerakan saham-saham di sektor batu bara mengekor sentimen eksternal. Selain itu, ada harapan harga batu bara menguat dari level saat ini US$88,6 per metrik ton berdasarkan harga mingguan di Newcastle.

Tapi,dia mengingatkan, pasar tidak bisa berharap harga batu bara bisa mencapai US$120 per metrik ton seperti 2011.“Meski begitu, saya yakin, emiten-emiten di sektor batu bara masih mencatatkan laba bersih yang positif,” katanya kepada INILAH.COM.

Karena itu, lanjut dia, investor lebih baik fokus pada kinerja fundamental emiten di sektor ini. “Perusahaan-perusahaan batu bara Indonesia dengan harga batu bara saat ini, masih mencatatkan keuntungan meskipun harga batu bara tidak setinggi 2011,” papar dia.

Lanang menilai, penurunan harga batu bara ke level saat ini, bukanlah masalah yang berartidan semata siklus bisnis setelah batu bara meroket ke atas US$130-an tahun lalu. “Suatu hal yang wajar, harga komoditas turun naik,” ungkapnya.

Soal harga batu bara, kata dia, selama perekonomian global masih seperti saat ini, harganya tidak akan stabil. Untuk jangka pendek, saham-saham batu bara, memang masih berpeluang rebound yang bersamaan dengan mulai rebound-nya harga batu bara. “Tapi, saya tidak melihat, saham-saham batu akan mengalami rally panjang,” ungkapnya.

Pasalnya, kata dia, tidak ada berita atau katalis yang bisa membuat saham-saham batu bara naik dengan sustainable. “Rebound saham-saham batu bara belakangan ini hanya karena saham-saham tersebut sudah turun sangat dalam sehingga secara valuasi Price Earnings Ratio (PER) menjadi menarik,” papar Lanang.

Dia menegaskan, tidak ada faktor fundamental yang kuat yang bisa mendongkrak harga sahamnya.“Karena itu, investor tinggal memilih perusahaan yang paling efisien, track record-nya positif, punya kontrak batu bara yang sudah jelas, dan masih terus mencetak laba dan harga sahamnya, secara valuasi sudah murah,” pujarnya.

Tentu, kata dia, ada saham-saham batu bara yang masih masuk dalam kategoritersebut meskipun kalau dilihat secara historis, semua saham batu bara sudah murah.Dia tidak merekomendasikan untuk saham BUMI, karena menurutnya, terlalu banyak variable yang harus difaktorkan untuk memilih saham ini. “Saya lebih memilih ITMG, PTBA, dan HRUM,” imbuhnya.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1881902/track-record-jadi-acuan-pilih-saham-batu-bara

Kamis, 05 Juli 2012

Kerugian Bumi Resources capai kisaran Rp 1 Triliun

JAKARTA. Pamor perusahaan batubara milik pengusaha dan politisi Aburizal Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), semakin terpuruk. Kinerja keuangan Bumi kembali terbenam kerugian pada kuartal I-2012.
Pada akhir Maret 2012, Bumi merugi hingga US$ 107,16 juta atau sekitar Rp 1 triliun. Catatan kinerja ini memperpanjang penurunan kinerja perseroan. Akhir tahun lalu, laba Bumi sudah menurun.
Terlebih jika dibandingkan capaian pada kuartal I-2011 di mana Bumi masih mampu mencetak laba bersih sebesar US$ 111,25 juta, penurunannya mencapai 196,32%.
Ari Hudaya, Direktur Utama Bumi Resources, menjelaskan beberapa penyebab kerugian perseroan di kuartal I lalu. Pertama, transaksi derivatif dan rugi kurs. Berdasarkan laporan per Maret 2012, Bumi menderita rugi atas transaksi derivatif sebesar US$ 16,21 juta. Juga, rugi nilai tukar hingga US$ 8,19 juta.
Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, Bumi masih membukukan laba di pos ini sebesar US$ 106,2 juta. Sedangkan laba dari selisih kurs masih tercapai US$ 80 juta. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu mengerek risiko pasar. Penguatan USD/IDR beberapa waktu lalu juga menekan Bumi.
Kedua, penurunan kegiatan penambangan oleh Newmont Nusa Tenggara. Nilai bagian atas laba netto entitas asosiasi perseroan anjlok dari US$ 39,3 juta menjadi hanya US$ 3,52 juta. Bumi menguasai Newmont Nusa Tenggara melalui PT Multi Daerah Bersaing, dengan penguasaan saham Newmont sebesar 15,68%.
"Kami akan memperbaiki fasilitas produksi demi peningkatan kapasitas produksi dan meningkatkan efisiensi," janji Ari, Rabu malam (4/7).
Di sisi lain, beban usaha Bumi juga melonjak tajam. Pada kuartal I-2012, beban usaha perseroan tercatat sebesar US$ 172,2 juta, naik 73,4% year on year. Pengerek terbesar beban usaha adalah beban biaya eksplorasi dan evaluasi yang mencapai US$ 39,71 juta di tiga bulan pertama 2012.
Pos biaya eksplorasi itu melejit ribuan persen dibandingkan tahun lalu yang cuma US$ 344.994. Kenaikan harga minyak menjadi penyebabnya, yakni dari US$ 0,83 per liter menjadi US$ 0,98 per liter.

Bumi berhasil cetak pendapatan US$ 1 miliar


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk mencatat kerugian bersih hingga sebesar US$ 107,16 juta, pada kuartal I-2012. Kerugian ini terutama disebabkan oleh anjloknya pos transaksi derivatif dan rugi selisih kurs. Ditambah beban usaha yang semakin melejit akibat kenaikan biaya eksplorasi.
Namun, pengelola perusahaan milik pengusaha-politisi Aburizal Bakrie ini masih tetap optimistis kinerja perseroan akan membaik. "Kami optimistis bisa mendapatkan kontrak pembelian jangka panjang dengan harga bagus," jelas Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Bumi, kemarin (5/7).
Rerata harga jual batubara Bumi di kuartal I-2012 masih bertahan di US$ 92,8 per ton, naik 5,81% year on year, di tengah penurunan harga batubara beberapa waktu lalu. Volume penjualan batubara Bumi meningkat 11,2% menjadi 15,9 juta ton.
Alhasil, pendapatan Bumi terdongkrak 17,8% menjadi US$ 1 miliar. "Target produksi tetap sebesar 75 juta ton dengan rerata harga jual US$ 85 per ton, tahun ini," kata Dileep.

Rabu, 04 Juli 2012

Kuartal I, BUMI Rugi Rp107,1 Miliar


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada kuartal I 2012 mengalami kerugian Rp107,1 miliar dari laba bersih Rp111,2 miliar.

Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Rabu (4/7/2012). Padahal perseroan mengalami kenaikan pendapatan menjadi Rp1,007 triliun dari Rp849,9 miliar pada periode yang sama tahun 2011. Namun beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp686,5 miliar dari Rp578,9 miliar. Dengan demikian laba bruto mencapai Rp321,3 miliar dari Rp270,9 miliar.

Perseroan masih harus menanggung beban usaha mencapai Rp172,2 miliar dari Rp99,3 miliar di 2011. Jadi laba usaha yang tercatat menjadi Rp149,1 miliar dari Rp171,6 miliar di 2011. Namun dengan beban mencapai Rp173,8 miliar maka rugi neto mencapai Rp107,1 miliar dari laba Rp111,2 miliar di periode yang sama 2011.

Untuk per saham mengalami rugi sebesar Rp4,9 dari Rp5,3 per saham. Untuk total aset perseroan turun tipis menjadi Rp7,3 triliun dari Rp7,4 triliun per Desember 2011.

Pada perdagangan Rabu (4/7/2012) saham BUMI menguat Rp30 ke Rp1.210 dengan volume 273,888 saham senilai Rp165,01 miliar sebanyak 3.948 kali transaksi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1879245/kuartal-i-bumi-rugi-rp1071-miliar

Senin, 02 Juli 2012

BUMI akan cairkan US$ 231 juta dari Recapital


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan mencairkan jutaan dollar dana investasi yang dikelola PT Recapital Asset Management. Nick von Schirnding, Kepala Hubungan Investor Bumi Plc, induk usaha BUMI, menuturkan, total dana di Recapital yang akan dicairkan BUMI senilai US$ 231 juta (sekitar Rp 2,1 triliun).
Sedianya, pencairan dana ini akan berlangsung di paruh pertama tahun ini. Namun, niat BUMI itu tertunda.
Schirnding tidak menjelaskan alasan penundaan pencairan tersebut. BUMI hanya berharap pencairan investasi ini bakal diterima BUMI pada 27 Agustus 2012. "Manajemen Bumi Resources sedang terlibat dialog dengan Recapital mengenai waktu pelaksanaan pembayaran," kata Schirnding dalam keterangan kepada Bursa London, Senin (2/7).
Abu Hurairah, Direktur Utama Recapital Asset Management, tidak bersedia memberikan keterangan terkait tertundanya pencarian investasi BUMI. "Maaf saya masih cuti di Taiwan sampai Rabu," kata dia dalam pesan singkat kepada KONTAN, kemarin.
Sedianya, BUMI akan memakai dana di Recapital itu untuk mempercepat pembayaran utangnya kepada China Investment Corp (CIC) senilai US$ 600 juta pada Oktober 2012. Ini merupakan bagian dari total utang BUMI di CIC senilai US$ 1,9 miliar.
Selain menarik dananya di Recapital, BUMI akan menarik piutangnya di PT Bukit Mutiara senilai US$ 260 juta. Direktur BUMI, Dileep Srivastava, beberapa waktu yang lalu menyatakan, BUMI menargetkan bisa menarik piutang US$ 130 juta dari Bukit Mutiara pada Maret 2012. Sisanya akan ditarik di semester I-2013. Tapi rencana penarikan piutang tersebut tak terealisasi, bahkan hingga kini.
Sebagai catatan, tahun lalu, BUMI telah membayar sebagian utangnya kepada CIC senilai US$ 600 juta. Dengan demikian utangnya diharapkan tersisa US$ 700 juta. Jika percepatan pembayaran utang terwujud, BUMI bisa menekan beban bunga dan keuangan. Asal tahu saja, tingkat pengembalian atau internal rate return (IRR) secara keseluruhan dari pinjaman tersebut sebesar 19% per tahun.
Pengamat pasar modal, Kiswoyo Adi Joe, menilai tertundanya pencairan investasi BUMI di Recapital bukan masalah besar. Toh, jatuh tempo utang BUMI ke CIC sejatinya masih lama.
Tapi Kiswoyo tak merekomendasikan saham BUMI untuk investasi jangka panjang. BUMI hanya cocok untuk trading dengan target Rp 1.500 per saham. Harga BUMI kemarin menguat 4,5% menjadi Rp 1.160 per saham.

Senin, 25 Juni 2012

Asing Beli Saham BRMS, Target ke Rp 800


INILAH.COM, Jakarta - Rencana PT Bumi Resources (BUMI) untuk melepas 20% kepemilikan saham PT Bumi Resources Mineral (BRMS) kepada investor asing nampaknya akan segera direalisasikan.

Kabar yang berkembang di pasar, saham BRMS akan dijual di harga premium Rp 800. Hasil penjualannya akan digunakan untuk mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai US$600 juta pada Oktober 2012.

Sepanjang 2011, BRMSmencatat laba bersih mengesankan yaitu sebesar Rp 664 miliar dan penjualan bersih Rp 182 miliar. Perseroan juga sedang mengembangkan fase 6 di wilayah tambang Batu Hijau. Jika rampung akhir tahun ini, akan ada peningkatan produksi tembaga dan emas BRMS pada 2013.

BRMS berharap bisa segera memulai produksi bijih besi dari konsesi di Mauritania pada semester pertama tahun ini. Pemboran eksplorasi di konsesi tembaga dan emas yang dioperasikan oleh Gorontalo Minerals dan Citra Palu Minerals juga direncanakan selesai akhir tahun ini.

Transaksi BRMS akhir pekan lalu juga marak pada perdagangan warannya. Hal ini seiring rencana perusahaan untuk mengincar dana US$ 170 juta dari eksekusi waran pada akhir 2012.

Perseroan menerbitkan 2,2 miliar waran seri I saat IPO saham pada 2010. Dana hasil eksekusi waran akan digunakan untuk membiayai investasi proyek yang digarap dua anak usaha, Gorontalo Minerals dan Citra Palu Minerals. Dalam waktu dekat, kedua proyek tersebut akan masuk dalam tahap pengembangan dan diharapkan dapat berproduksi pada 2014-2015.

BRMS pada Jumat (22/6/2012) ditutup menguat 35 poin (8.33%) ke level Rp 455 per lembar. Total nilai transaksi mencapai sebesar Rp 17.92 miliar, dengan didominasi net buy beberapa broker besar dalam negeri. [ast]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1875709/asing-beli-saham-brms-target-ke-rp-800

Senin, 18 Juni 2012

Jual Saham BRMS, Kurangi Beban Bunga Utang BUMI


INILAH.COM, Jakarta - Langkah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) untuk melakukan pelunasan utang akan dapat mengurangi beban bunga sehingga mendorong kenaikan kinerja perseroan.

Demikian mengutip hasil riset E Trading Securities, Senin (18/6/2012). Rencananya BUMI akan menjual aset kepemilikan di PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS). BUMI memiliki saham sebanyak 81,8% di BRMS. Hasilnya akan digunakan untuk mempercepat pembayaran utang kepada China Investment Corp (CIC) senilai US$600 juta pada Oktober 2012.

Utang yang diberikan CIC dengan syarat penjaminan. Salah satu jaminan adalah saham milik anak usaha BUMI yakni PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd., PT IndoCoal Kalsel Resources, PT IndoCoal Kaltim Resources dan the Original Subsidiary Guarantors. Saldo utang jangka panjang BUMI per 31 Desember 2011 mencapai sekitar Rp34,9 triliun.

"Dalam pandangan kami, realisasi rencana pelunansan kewajiban tersebut, akan mengurangi beban bunga BUMI yang diharapkan berdampak pada peningkatan kinerja keuangan BUMI kedepannya."

Saham BUMI pada penutupan sesi I menguat Rp30 ke Rp1.110 dengan volume 167.859 saham senilai Rp93,9 miliar sebanyak 1.907 kali transaksi. Sementara saham BRMS stagnan di Rp400 dengan volume 8.266 saham senilai Rp1,6 miliar sebanyak 168 kali transaksi.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1873280/jual-saham-brms-kurangi-beban-bunga-utang-bumi

Minggu, 27 Mei 2012

Akhir Juni, BUMI Rilis Laporan Keuangan QI 2012


INILAH.COm, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengungkapkan laporan keuangan per 31 Maret 2012 baru dapat dilaporkan paling lambat akhir Juni 2012.

Demikian mengutip keterbukaan informasi yang diterbitkan BEI, Jumat (25/5/2012). Perseroan masih melakukan audit terhadap laporan keuangan interim kuartal I Konsolidasi per 31 Maret 2012 oleh Akuntan Publik Tjiendradjaja & Handoko Tomo a namber firm of MAZARS.

Demikian juga dengan laporan kinerja kuartal pertama PT Bumi Resources Mineral Tbk (BMRS) juga akan dirilis pada akhir Juni 2012. Sebab perseroan melakukan perubahan rencana limited review menjadi laporan audit karena PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai induk perusahaan melakukan audit laporan yang sama. Jadi BUMI memerlukan laporan keuangan BRMS yang diaudit kantor akuntan publik.


BUMI per 31 Desember 2011 mencapai kenaikan laba 6% menjadi US$220,5 juta dari US$207,1 juta di 2010. Perseroan mengalami kenaikan pendapatan operasional hingga 73% dan kenaikan harga jual barubara hingga 30%. Sepanjang 2011, pendapatan penjualan BUMI meningkat sebesar lebih dari US$1 miliar atau 37% menjadi US$4 miliar dari US$2,92 miliar pada periode yang sama tahun 2010.

Sementara pada kuartal pertama 2011, BUMI meraih laba bersih sebesar US$113 juta bila dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$97 juta. Untuk pendapatan penjualan pada periode tersebut sebesar US$1,23 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1,02 miliar atau naik 21 persen.

Adapun untuk harga rata-rata batu bara pada kuartal pertama 2011 mengalami kenaikan sebesar US$87,63 per ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$62,75 per ton.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1865163/akhir-juni-bumi-rilis-laporan-keuangan-qi-2012

Senin, 21 Mei 2012

Utang menumpuk, dividen BUMI susut


JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengalokasikan dividen tahun 2011 senilai US$ 32,26 juta. Jika menggunakan kurs US$ 1=Rp 9.200, nilai dividen BUMI mencapai sekitar Rp 296,79 miliar.
Dividen itu setara 15% total laba bersih BUMI tahun 2011, yang senilai US$ 215,1 juta. "Tahun ini kami membagikan dividen Rp 14,31 per saham," ujar Direktur BUMI, Dileep Srivastava, Senin (21/5).
BUMI akan membayarkan dividen pada akhir Juni 2012. Mengacu harga saham BUMI di Bursa Efek Indonesia, Senin (21/5), yakni Rp 1.660 per saham, dividend yield BUMI setara dengan 0,86%.
BUMI Plc, induk usaha BUMI, meraup dividen paling besar, yakni US$ 9,36 juta atau setara Rp 86,11 miliar. Di Bumi Plc, Grup Bakrie berbagi saham dengan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) masing-masing memiliki 23,8% saham. Sedangkan pengusaha asal Inggris, Nathaniel Rothschild, memiliki sekitar 11% saham Bumi Plc.
Per 29 Februari 2012, Bumi Plc menguasai 29% saham BUMI. Kemudian Citibank London S/A Glencore International memiliki 3,29%, diikuti Inventures Capital Pte Ltd yang menguasai 2,69%, serta JPMCB-Norges Bank memiliki 2,27% saham. Adapun porsi kepemilikan investor publik 62,57% saham.
Dividend payout ratio BUMI di tahun 2011 lebih rendah daripada dividen tahun 2010. Kala itu, BUMI membagikan dividen setara 30% laba bersih tahun 2010 yang senilai US$ 266,05 juta.
Dileep menjelaskan, penurunan porsi dividen BUMI lantaran perseroan ini sedang berfokus menyelesaikan utang. Jadi, sebagian besar keuntungan akan digunakan untuk menutup kewajibannya.
Analis AM Capital, Janson Nasrial, berpendapat, penurunan rasio dividen ini wajar, karena laba bersih BUMI menyusut. "Tetapi lebih baik BUMI tidak usah membagikan dividen, selesaikan dulu utang-utangnya," ujar dia.
Beban bunga dan keuangan menjadi salah satu pemicu menyusutnya laba bersih BUMI di tahun lalu. Di periode itu, beban bunga dan keuangan BUMI tercatat US$ 660,68 juta, naik dari tahun sebelumnya US$ 659,71 juta.
Samin Tan, Presiden Komisaris BUMI yang baru, mengatakan, prioritas saat ini adalah menurunkan eksposur utang, terutama utang ke China Investment Corp (CIC). Pengelola BUMI belum membeberkan sumber dana pelunasan utang tersebut. Samin Tan hanya menyatakan, penjualan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi salah satu pilihannya.

Bumi Resources Tetap Komitmen Turunkan Utang


INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk menegaskan untuk tetap berupaya menurunkan utang perseroan.

Hal itu disampaikan Presiden Komisaris PT Bumi Resources Tbk, Samin Tan, Senin (21/5/2012). "Semua sepakat salah satu yang dilakukan yaitu menurunkan utang BUMI. Seperti kabar yang beredar di pasar 2-3 bulan ini antara lain status PT Bumi Resources Mineral Tbk akan direview sebagai sumber untuk kurangi utang, tapi secara jangka panjang bukan dari penjualan aset," tutur Samin. Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2011, utang perseroan sekitar US$3,8 miliar.

Selain itu, perseroan juga akan menggenjot produksi batu bara untuk mencapai kinerja yang baik. Produksi batu akan mencapai 85 juta ton pada 2014.

Sebelumnya hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memutuskan menyetujui membagikan dividen 2011 sebesar 15% dari laba bersih 2011.

"Hasil RUPST PT Bumi Resources Tbk akan membagikan dividen sebesar 15% dari laba bersih 2011. Pembagian dividen sekitar Rp14,31 per saham, pembayaran dividen akan dilakukan akhir Juni," ujar Direktur PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava, Senin (21/5/2012).

Dileep menuturkan, pembagian dividen 2011 sekitar 15% dari laba bersih tersebut karena perseroan ingin menurunkan posisi utang.