DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).
Tampilkan postingan dengan label BBNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BBNI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

Morning Dew - 1 December 2012

Market Preview

Bursa saham di Amerika berakhir flat pada hari Jumat dengan indeks Dow Jones ditutup menguat 3.76 poin atau 0.03% di 13,025.60, indeks S&P 500 ditutup di 1,416.18, naik tipis 0.23 poin atau 0.02% dan indeks NASDAQ melemah 1.79 poin atau 0.06% di 3,010.24. 

Sebelumnya, di bursa Eropa indeks FTSE 100 dan DAX juga berakhir flat dengan indeks FTSE turun tipis 0.06% atau 3.48 poin menjadi 5,866.82 sementara indeks DAX berakhir menguat tipis 0.06% atau 4.54 poin menjadi 7,405.50.

Kebuntuan dalam negoasiasi penetapan anggaran belanja Amerika kembali menghambat upaya kenaikan saham-saham di Eropa dan Amerika meskipun sebelumnya di sesi Asia indeks Nikkei dan Hang Seng masing-masing membukukan kenaikan 0.48% dan 0.49%. Bursa domestik sendiri mengalami tekanan jual hingga Jakarta Composite Index (JCI) terjungkal 0.9% dan ditutup di 4,276.14.

Hingga Jumat, perundingan antara partai Demokrat dan Republik masih belum mampu mencapai kesepakatan mengenai bagaimana menghindarkan perekonomian Amerika dari kenaikan pajak dan pemotongan anggaran secara otomatis pada pergantian tahun mendatang yang berpotensi mendorong Amerika kembali ke periode resesi.

Salah satu isu yang diperdebatkan antara pihak Demokrat dan Republik adalah mengenai perpanjangan pemotongan pajak sementara yang dimulai sejak era presiden George W. Bush yang dijadwalkan akan berakhir pada tanggal 31 Desember mendatang. Bagi partai Republik,sasaran pemotongan pajak ini adalah semua wajib pajak sementara bagi partai Demokrat sasaran yang diinginkan adalah para wajib pajak yang berpenghasilan di bawah $250 ribu per tahunnya.

Dari kubu partai Republik juga dikabarkan bahwa sejumlah anggotanya mulai melonggarkan proposal mereka dan mau mempertimbangkan kenaikan pajak untuk para para wajib pajak dengan penghasilan tinggi dengan catatan hal ini disertai dengan pemotongan pengeluaran pemerintah dalam jumlah yang signifikan. Namun, mayoritas anggota partai Republik menolak kenaikan pajak dan lebih cenderung memilih meningkatkan pendapatan melalui reformasi pajak.

Hingga tercapainya kesepakatan antara kedua partai politik di Amerika ini diperkirakan pasar masih akan mengalami kesulitan untuk menanjak secara signifikan walaupun isu di Eropa sehubungan dengan bailout Yunani telah terselesaikan, setidaknya untuk saat ini.

Sementara itu, dari China dilaporkan bahwa indeks aktivitas manufaktur yang dirilis oleh biro pusat statistik China berhasil mengalami kenaikan tipis dari 50.2 menjadi 50.6 di bulan November, sedikit di bawah ekspektasi para analis yang memperkirakan indeks akan mencapai angka 50.8. Kenaikan ini setidaknya menimbulkan optimisme bahwa perekonomian China tengah mengalami pemulihan setelah didera oleh perlambatan selama tujuh triwulan berturut-turut. Sub-indeks pesanan baru dan permintaan ekspor dilaporkan mengalami peningkatan yang berdampak pada kenaikan indeks PMI ini.

Dalam sepekan mendatang ini, beberapa data ekonomi yang signifikan akan dirilis baik di Amerika, Eropa maupun di China.

China akan merilis indeks PMI untuk sektor non-manufakturnya pada hari Senin, bersamaan dengan dirilisnya indeks PMI untuk sektor manufaktur oleh HSBC. Kedua data ini merupakan data untuk periode bulan November. Indeks PMI untuk sektor non-manufaktur yang dirilis oleh HSBC sendiri akan dirilis pada hari Rabu mendatang. Posisi indeks PMI di atas 50 menunjukkan adanya ekspansi sementara untuk posisi indeks di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Data paling signifikan yang dirilis di Amerika dalam sepekan mendatang ini adalah nonfarm payrolls untuk periode bulan November. Setelah pada bulan sebelumnya mencatatkan kenaikan payrolls sebanyak 171 ribu, data bulan November diperkirakan mencatatkan kenaikan sebesar 90 ribu; angka pengangguran sementara itu diprediksi stabil di 7.9%. Lebih lanjut, payrolls untuk sektor manufaktur diperkirakan mengalami penurunan sebesar 5 ribu dibandingkan kenaikan 13 ribu yang terjadi di bulan sebelumnya. Untuk sektor swasta, penambahan payrolls di bulan November diperkirakan berada di angka 90 ribu, turun tajam dari penambahan bulan sebelumnya yaitu 184 ribu. Data untuk sektor swasta ini pada hari Rabu akan terlebih dahulu dirilis oleh ADP dimana diperkirakan terjadi kenaikan payroll sebanyak 125 ribu dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya yang menunjukkan kenaikan sebesar 158 ribu. Data ISM yang sebanding dengan data PMI akan dirilis pula di Amerika. Untuk sektor manufaktur, data ISM bulan November diprediksi menurun tipis dari 51.7 menjadi 51.5 sementara untuk periode yang sama data ISM untuk sektor non-manufaktur diperkirakan turun dari 54.2 menjadi 53.5. Data-data ekonomi lainnya antara lain pengeluaran untuk konstruksi untuk bulan Oktober, penjualan otomotif, produktivitas sektor diluar sektor pertanian, biaya tenaga kerja per unit, dan juga data pesanan pabrik. Data indeks kepercayaan Universitas Michigan juga akan dirilis untuk periode bulan Desember dimana diprediksi akan mengalami penurunan dari 82.7 menjadi 82.0.

Di Eropa, data-data ekonomi yang dirilis antara lain PMI untuk sektor manufaktur dan non-manufaktur dari Jerman, Italia, dan Perancis serta zona euro secara keseluruhan.

Perlu diperhatikan bahwa data-data ekonomi Amerika untuk bulan November akan cenderung terkena dampak negatif dari badai Sandy yang menghantam Amerika pada bulan lalu, sehingga akan cenderung menunjukkan indikasi yang negatif daripada positif. Pada akhirnya, pasar akan lebih memilih untuk fokus kepada masalah perundingan anggaran belanja Amerika antara Obama dan Kongres. Isu dari Eropa sendiri juga untuk sementara ini telah mereda setelah disepakatinya pemberian dana bantuan untuk Yunani di bulan Desember. 
Pergerakan Jakarta Composite Index (JCI) untuk pekan mendatang diperkirakan akan kembali ke zona konsolidasinya di antara 4,300-4,350. Namun, terlemparnya indeks hingga keluar dari zona ini berpotensi negatif untuk awal pekan mendatang. Support paling signifikan bagi indeks saat ini berada di 4,242 sementara seandainya JCI naik, indeks tetap akan cenderung tertahan oleh resistancenya di sekitar 4,360-4,370.


Kamis, 02 Agustus 2012

BNI terima US$ 12 miliar dari devisa hasil ekspor


JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menargetkan devisa hasil ekspor (DHE) senilai US$ 25 miliar sampai akhir tahun ini. "Kalau sampai sekarang DHE yang masuk ke kami baru US$ 11 miliar hingga US$ 12 miliar," kata Kepala Divisi Internasional BNI Abdullah Firman Wibowo saat dijumpai di Jakarta, Kamis (8/2).
Lebih lanjut Abdullah bilang, sebenarnya nilai DHE yang masuk ke BNI lebih besar dibandingkan angka yang ia sajikan. Tetapi ada beberapa formulir dokumen yang diberikan eksportir yang salah, sehingga laporan tersebut ditolak oleh Bank Indonesia (BI) sehingga tidak terbaca sebagai DHE.
Untuk menimalisir hal itu, BNI berniat melakukan edukasi terhadap eksportir yang mengisi kelengkapan dokumen DHE. Bahkan perusahaan pelat merah ini berniat membuat website sendiri yang digunakan untuk pengisian dokumen DHE.
DHE sendiri merupakan salah satu peraturan BI yang mewajibkan eksportir untuk menerima DHE melalui bank devisa Indonesia. DHE ini pun wajib diterima melalui bank devisa dalam negeri paling lama 6 bulan setelah tanggal pemberitahuan.

Rabu, 01 Agustus 2012

Transaksi Kartu Kredit BNI Capai Rp10,1 Triliun per Juli


IMQ, Jakarta —  PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan transaksi kartu kredit per Juli 2012 sebesar Rp10,1 triliun atau meningkat 40% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menurut GM Kartu BNI Dodit Wiweko Probojakti outstanding kredit yang diberikan melalui kartu kredit meningkat 32%. Menjelang lebaran, transaksi kartu kredit BNI bisa mengalami peningkatkan sekitar 15-20%.

"Hingga saat ini, kami sudah menerbitkan sebanyak 1,9 juta kartu kredit," ujar Dodit dijumpai di Jakarta, Rabu (1/8).

Ia menambahkan, pada semester pertama 2012 transaksi kartu kredit mencapai Rp8,5 triliun, naik 38%. Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan transaksi melalui kartu kredit Rp18 triliun.

Pada Ramadhan dan menjelang lebaran, BNI memberikan kemudahan dan keringan bagi nasaah dalam memenuhi kebutuhannya. BNI menawarkan beragam program promo baik bagi pemegang kartu kredit BNI maupun bagi pemegang kartu debit BNI.

"Terdapat banyak program yang bisa dinikmati nasabah untuk kenyamanan dan kemudahan salama Ramadhan dan menjelang lebaran kali ini," kata Direktur Konsumer dan Ritel BNI Darmadi Sutanto.

Ia memaparkan keuntungan ini diharapkan memberikan nilai tmabah bagi nasabah BNI, terutama dalam bulan Ramadhan dan lebaran. Secara bisnis, beberapa tawaran promo ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan kartu kredit dan kartu debit BNI untuk bertransaksi.

Selain itu, ativitas pengiriman uang (remitansi) turut meningkat pada Ramadhan dan menjelang lebaran. Pada tahun ini, BNI memproyeksikan kenaikan slip remitansii sebesar 40%.

http://www.imq21.com/news/read/81480/20120801/173328/Transaksi-Kartu-Kredit-BNI-Capai-Rp10-1-Triliun-per-Juli.html

Selasa, 17 Juli 2012

Overweight untuk Sektor Perbankan


INILAH.COM, Jakarta – Laporan keuangan bank umum ke Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pada bulan kelima 2012, beberapa perbankan pelat merah membukukan kenaikan laba bersih.

Misalkan saja Bank Negara Indonesia (BBNI) yang mencatatkan laba bersih Rp2,439 triliun per Mei 2012. Angka ini mengalami kenaikan tajam sebesar 47,8% ketimbang periode yang sama 2011 sebesar Rp1,650 triliun.

Sedangkan Bank Tabungan Negara (BBTN) juga berhasil membukukan kinerja yang positif, dengan laba bersih mencapai Rp541 miliar atau naik 47% dari periode yang sama 2011 sebesar Rp368 miliar.

Di posisi selanjutnya ada Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan laba bersih naik 24,7% menjadi Rp6,774 triliun.

Terakhir adalah Bank Mandiri (BMRI) yang membukukan laba bersih Rp5,4 triliun pada Mei 2012 atau mengalami kenaikan 1,1%. Rendahnya kenaikan ini dikarenakan adanya pendapatan dari recovery kredit Garuda (GIAA) pada 1Q11.

Pencapaian laba bersih bank-bank tersebut sebagian besar melampaui estimasi pasar. Misalkan saja laba bersih BMRI, yang mewakiliki 40,1% dari laba bersih 2012. Kemudian BBRI dan BBTN yang masing-masing mencapai 42% dan 43,6% dari estimasi pasar. Sedangkan BBNI in line estimasi, yang mewakili 36,9% prediksi pasar.

Dikaitkan dengan estimasi Samuel Sekuritas, pencapaian laba bersih BMRI juga di atas estimasi, yakni 41,9% dari prediksi 2012. Sementara BBRI dan BBNI in line dengan estimasi, yang mewakili 39,6% dan 36,9%.

Dengan positifnya kinerja perbankan, tak heran bila Samuel sekuritas memberi rekomendasi overweight bagi sektor ini. [ast]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1883782/overweight-untuk-sektor-perbankan

BNI Securities Bidik Bisnis Syariah Tumbuh 20%


INILAH.COM, Jakarta - PT BNI Securities (BNIS) berharap bisa mencatatkan pertumbuhan sebesar 20% dari sisi volume trading bisnis syariah.

"Kita berharap bisnis syariah ini bisa menopang pelemahan bisnis yang terjadi di konvensional," ujar Direktur Utama BNI Securities, Jimmy Nyo dalam acra peluncuran eSmart Syariah, layanan transaksi saham secara reguler maupun online berbasis syariah di Jakarta, Selasa (17/7/2012).

Menurutnya, potensi bisnis ini sangat besar di Indonesia, terutama di daerah-daerah tapal kuda seperti Aceh, Semarang, Jombang, Banjarmasin, dan Jakarta. "Di kantong-kantong muslim yang ada di sana memang meminta kita untuk membuat produk syariah," ungkapnya.

Karenanya, lanjutnya, BNIS berusaha. memikirkan kenyamanan dan keyakinan para investor potensial ini untuk bertransaksi di pasar modal sesuai syariah. PT BNI Securities (BNIS), demi memenuhi kebutuhan pasar tersebut, kini telah memperoleh sertifikat yang diterbitkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Sertifikasi ini membuat BNIS secara resmi telah diizinkan bertransaksi efek saham berbasis syariah.

Untuk itu, BNIS meluncurkan Dengan eSmart Syariah kini nasabah BNIS dapat menikmati transaksi dengan nyaman, sejalan dengan motto BNI Securities, “Memberi Kenyamanan Dalam Bertransaksi”.

"Diversifikasi bisnis ke layanan berbasis syariah menjadi salah satu strategi Perusahaan di tahun ini. Nasabah pun kini memiliki pilihan dalam bertransaksi efek," tukas Jimmy Nyo.

Peluncuran eSmart Syariah ditandai dengan penyerahan sertifikat halal transaksi saham dari DSN MUI oleh K.H. Ma'ruf Amin.

Jimmy menjelaskan, dengan sertifikasi tersebut kini BNIS merupakan perusahaan sekuritas BUMN pertama yang memiliki layanan transaksi efek saham sesuai ketentuan syariah. "Upaya sosialisasi kini terus dilakukan secara berkelanjutan, di antaranya melalui kunjungan ke cabang-cabang," papar Jimmy.

Untuk lebih mengoptimalkan layanan eSmart Syariah, pada kesempatan yang bersamaan sinergi Perusahaan dengan BNI Group pun dilakukan dalam bentuk penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Presiden Direktur BNI Securities Jimmy Nyo dan Direktur Bisnis BNI Syariah Imam Teguh Saptono. [hid]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1883488/bni-securities-bidik-bisnis-syariah-tumbuh-20

BNI Securities Prediksi Target Transaksi Turun 30%


INILAH.COM, Jakarta - PT BNI Securities (BNIS) memprediksi akan terjadi penurunan target transaksi sebesar 30% di 2012.

"Target transaksi 2012 sepertinya akan turun sebesar 30% dari yang ditargetkan sebelumnya sebesar Rp250 miliar," ujar Direktur Utama BNIS, Jimmy Nyo usai acara peluncuran eSmart Syariah di Jakarta, Selasa (17/7/2012).

Per Semester I 2012 rata-rata transaksi perusahaan tercatat turun menjadi hanya Rp150 miliar dari periode yang sama 2011 sebesar Rp170 miliar. "Ini terjadi karena banyak fund manager yang menunda melakukan transaksi karena kondisi krisis global, terutama di Eropa," tukasnya.

Menurutnya, penurunan transaksi ini juga terjadi di bursa, di mana dari target sebesar Rp5,5 triliun di 2012 ini, saat ini baru tercapai Rp4 triliun.

Karenanya, Jimmy berharap terjadi pertumbuhan bisnis di syariah, sehingga bisa menopang bisnis di konvensional, sehingga penurunannya tidak terlalu drastis. "Kita berharap bisnis syariah ini bisa menyumbang pertumbuhan sebesar 20% sepanjang sisa tahun ini," katanya. [hid]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1883503/bni-securities-prediksi-target-transaksi-turun-30

BNI Securities Tangani Penerbitan Obligasi Rp1 T


INILAH.COM, Jakarta - PT BNI Securities (BNIS) berencana menangani penerbitan obligasi sebuah perusahaan institusi keuangan.

"Rencananya kami akan menangani penerbitan obligasi sebuah perusahaan keuangan yang nilainya sebesar Rp1 triliun," ujar Direktur Utama BNIS, Jimmy Nyo di Jakarta, Selasa (17/7/2012).

Adapun penerbitkan obligasi ini rencananya akan dilakukan pada awal tahun depan. PT BNI Securities (BNIS) memprediksi akan terjadi penurunan target transaksi sebesar 30% di 2012. "Target transaksi 2012 sepertinya akan turun sebesar 30% dari yang ditargetkan sebelumnya sebesar Rp250 miliar dan penurunan terjadi di nasabah institusi," ujar Jimmy Nyo.

Per Semester I 2012 rata-rata transaksi perusahaan tercatat turun menjadi hanya Rp150 miliar dari periode yang sama 2011 sebesar Rp170 miliar. "Ini terjadi karena banyak fund manager yang menunda melakukan transaksi karena kondisi krisis global, terutama di Eropa," tukasnya.

Menurutnya, penurunan transaksi ini juga terjadi di bursa, di mana dari target sebesar Rp5,5 triliun di 2012 ini, saat ini baru tercapai Rp4 triliun. Karenanya, Jimmy berharap terjadi pertumbuhan bisnis di syariah, sehingga bisa menopang bisnis di konvensional, sehingga penurunannya tidak terlalu drastis. "Kita berharap bisnis syariah ini bisa menyumbang pertumbuhan sebesar 20% sepanjang sisa tahun ini," katanya. [hid]

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1883525/bni-securities-tangani-penerbitan-obligasi-rp1-t

Rabu, 27 Juni 2012

BBNI targetkan penyaluran PKBL Rp 75 miliar


JAKARTA. PT Bank BNI Tbk (BBNI) membidik penyaluran dana sebesar Rp 75 miliar untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) sepanjang 2012. Sektor usaha yang menjadi sasaran binaan BNI antara lain sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di industri kreatif dan kewirausahaan berbasis pemberdayaan limbah rumah tangga.

BNI mengaku telah membina lima desa dengan jumlah UKM sebanyak 4.000 pelaku usaha pada 2010 lalu. Setahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi 10 desa binaan dengan 6.500 UKM. "Tahun ini kami berencana menambah menjadi 20 desa dengan 9.000 pelaku usaha," kata Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, Kamis (28/6).

NI menargetkan pada 2013 kapasitas binaan akan terus meningkat hingga mencapai 51 desa dan 15.000 pelaku usaha. Gatot mengatakan pihaknya tidak sekedar mengucurkan modal melainkan juga paket fasilitas pelatihan di setiap desa binaan dengan mendatangkan ahli usaha untuk berbagi ilmu. Selain itu, BNI pun ikut mempromosikan hasil karya binaan melalui berbagai pameran.

http://keuangan.kontan.co.id/news/bbni-targetkan-penyaluran-pkbl-rp-75-miliar

Rabu, 20 Juni 2012

BRI-BNI Beroperasi Sabtu-Minggu di Priok


IMQ, Jakarta —  Menteri BUMN Dahlan Iskan menginstruksikan kepada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk agar membuka kantor pada Sabtu dan Minggu di Pelabuhan Tanjung Priok.

"Bank Mandiri sudah buka di Tanjung Priok beberapa hari lalu, sedangkan BNI akan buka dua minggu," kata Dahlan Iskan ditemui di sela acara BUMN Marketers di Jakarta, Rabu (20/6).

Dahlan mengungkapkan pelabuhan Tanjung Priok sebagai pusat kegiatan eksportir seyogyanya didukung oleh perbankan yang beroperasi pada Sabtu-Minggu. Sebab, kegiatan eksportir akan terhambat karena tidak dapat membayar melalui sistem perbankan.

"Kapal itu kan tidak mengenal hari, karena kapal jangan sampai tertahan di situ karena urusana pembayaran belum selesai," ungkapnya.

Rencana Dahlan menyusul permintaan Direktorat Jenderal Bea Cukai agar bank, khususnya bank BUMN dapat beroperasi Sabtu-Minggu di pelabuhan, sebab eksportir tidak bisa ekspor dan akan mengalami kerugian sekitar US$10.000 atau Rp100.000 per hari.

Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (PPKC), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan, Kushari Suprianto mengatakan pihak Bea Cukai sering disalahkan para eksportir karena tidak bisa ekspor.

"Sudah ada Peraturan Menteri Keuangan, di mana bank bisa tetap bisa melayani dengan menerbitkan nomor tanda penerimaan negara," kata Kushari.

Ia mengakui tidak beroperasinya bank membuat ekspor terhambat, sehingga eksportir harus membayar sewa kapal sesuai dengan bobot kapal tersebut.

http://www.imq21.com/news/read/72342/20120620/123840/BRI-BNI-Beroperasi-Sabtu-Minggu-di-Priok.html

Senin, 18 Juni 2012

BNI Fasilitasi Transaksi Intraday KPEI Rp300 M


INILAH.COM, Jakarta - Bank Negara Indonesia (BNI) berkomitmen memberikan fasilitas intraday senilai Rp300 miliar kepada PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).

"Total KPEI akan memperoleh fasilitas intraday dari 5 bank pembayaran senilai Rp1,69 triliun," ujar Kepala Unit Komunikasi Perusahaan KPEI, Razif Yunus, Senin (18/6/2012).

Penandatanganan perjanjian fasilitas intraday dilakukan pada hari ini. Perjanjian ini diwakili oleh direksi KPEI dengan direksi BNI. Acara ini juga dihadiri oleh ketua Bapepam-LK Nurhaida dan direksi SRO lainnya.

Ketua Bapepam-LK, Nurhaida mengatakan, fasilitas intraday membuat transaksi lebih cepat. Dengan pemberian fasilitas oleh BNI sebagai dukungan bank pembayar. "Fasilitas intraday masih mampu memenuhi kebutuhan funding harian berdasarkan transaksi harian saham. Kami yakin transaksi di pasar modal akan meningkat seiring kebutuhan funding juga," tutur Nurhaida.

Fasilitas intraday merupakan fasilitas kredit yang diberikan oleh bank pembayaran kepada KPEI untuk mendukung implementasi continuous settlement dalam proses penyelesaian transaksi bursa. Penggunaan fasilitas intraday ini untuk memenuhi hak terima uang anggota kliring yang telah menyelesaikan seluruh kewajiban serah efeknya sehingga pemenuhan hak terima uang anggota kliring tersebut dapat lebih cepat tanpa menunggu kewajiban serah dana dari anggota kliring lainnya.

Sebelumnya KPEI telah menerima fasilitas intraday dari 4 bank pembayaran antara lain Bank Permata senilai Rp300 miliar, Bank CIMB Niaga sebesar Rp290 miliar, Bank Mandiri senilai Rp500 miliar, dan Bank BCA senilai Rp300 miliar.

Implementasi metode continuous settlement telah dilakukan oleh KPEI sejak awal Agustus 2010. Metode ini merupakan salah satu usaha peningkatan layanan KPEI sebagai central counterpary di pasar modal Indonesia.

Wakil Direktur Utama BNI Felia Salim menyatakan fasilitas intraday yang diberikan BNI kepada PT KPEI senilai Rp300 miliar itu diharapkan dapat membantu proses settlement di pasar modal. Dengan proses settlement yang lebih cepat diharapkan jumlah investor meningkat di pasar modal. Saat ini rata-rata fasilitas intraday sebesar Rp130 miliar per hari. [hid]

Kamis, 14 Juni 2012

Gunakan Obligasi Rekap, BNI Bisa Akuisisi Bahana


INILAH.COM, Jakarta - Rencana PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) untuk mengakuisisi PT Bahana Securities kemungkinan akan terwujud dengan menggunakan obligasi rekapitalisasi.

Kemungkinan tersebut diungkapkan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat ditemui pada acara Mandiri CFO Forum di Jakarta, Kamis (14/6/2012) yang dikutip dari Antara. "Saya ikut saja. Kalau Menteri Keuangan sudah mengatakan hal tersebut, maka saya sebagai yang dikuasai hanya mengikuti," katanya.

Dengan sikap menteri BUMN tersebut juga akan memberikan kepada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) peluang untuk menukarkan obligasi rekapitalisasinya, sebab Bank Mandiri memiliki obligasi rekap yang terbesar dibandingkan bank BUMN lain. "Terutama untuk Bank Mandiri selain sebagai bank BUMN terbesar, juga memiliki obligasi rekap yang terbanyak," ungkapnya.

Hal ini sejalan dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo telah memberikan persetujuan bagi BNI untuk menggunakan penukaran obligasi rekap dengan mengakuisisi BUMN Sekuritas, yakni Bahana Securities, asalkan mendapatkan dukungan dari DPR.

Menkeu beralasan keinginan BNI mengakuisisi Bahana harus melalui pertimbangan DPR karena berkaitan dengan divestasi (pelepasan) saham, mengingat Bahana adalah perusahaan pemerintah.

Akhir 2011, BNI tercatat memiliki obligasi rekap sebesar Rp16,57 triliun. Mayoritas merupakan jenis hold to maturity dengan suku bunga fixed (tetap) sebesar Rp14,25 triliun dan sisanya berjenis available for sale dengan suku bunga mengambang. Sementara itu, Bank Mandiri memiliki obligasi rekapitalisasi sebesar Rp72 triliun, termasuk AFS senilai Rp54 triliun.

http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/1872074/gunakan-obligasi-rekap-bni-bisa-akuisisi-bahana

Kamis, 07 Juni 2012

EKSPANSI BNI: Perkuat Dukungan Pendanaan MP3EI Di Sumut


MEDAN:: BNI Kantor Wilayah Medan berencana memperkuat dukungan pembiayaan terhadap proyek yang masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi di Sumatra Utara.

Joni R Tampulon, Kantor Wilayah Medan, mengatakan kebijakan ini disesuaikan dengan program Pembangunan nasional, dan perbankan dapat mendukung dari sisi pendanaan.

"Kami akan memperkuat dukungan terhadap pendanaan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI), sehingga target yang sudah ditetapkan Pemerintah dapat tercapai," ujarnya, pagi ini (Kamis, 7 Juni).

Program MP3EI Sumatra Utara terletak di Kawasan Industri Sei Mangke di Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Deli Serdang. Pemprov Sumut mengharapkan MP3EI dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.

Lebih jauh, Joni, yang baru menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah BNI Medan pada awal bulan ini, mengatakan selain MP3EI, pihaknya juga fokus pada pengembangan produk unggulan Sumut, seperti pertanian, industri manufaktur, dan jasa.

Mantan Kanwil BNI Denpasar itu menambahkan karakteristik masyarakat di Sumut dapat menjadi tantangan pengembangan sektor perbankan, tetapi di sisi lain dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik. (Bsi)

http://www.bisnis.com/articles/ekspansi-bni-perkuat-dukungan-pendanaan-mp3ei-di-sumut

Senin, 28 Mei 2012

Kredit konsumer BNI terdorong pertumbuhan KPR


JAKARTA. Rencana pemberlakuan aturan pembatasan uang muka kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit pemilikan rumah (KPR) pada Juni 2012, rupanya belum menggoyang pertumbuhan kredit konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Terbukti, di kuartal pertama 2012, kredit konsumer BNI tumbuh 32,7% menjadi Rp 17,2 triliun dibandingkan periode serupa tahun lalu sebesar Rp 12,9 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama dimotori oleh KPR BNI Griya yang naik sebesar 49,8% pada kuartal pertama 2012 menjadi Rp 19,403 triliun dari Rp 12,949 triliun pada periode serupa 2011. Disusul dengan pertumbuhan nilai transaksi pemakaian kartu kredit yang mencapai Rp 3,99 triliun pada kuartal I 2012 atau naik 10,4% dibanding kuartal I 2011 sebesar Rp 2,96 triliun.

"Dampak dari rencana pemberlakuan aturan uang muka belum ada sampai saat ini. Untuk KPR, dari portofolio yang kita kami punya 65% merupakan KPR di bawah 70m2 yang tidak terkena aturan. Sisanya baru di atas 70m2. Dengan komposisi itu dampak aturan terhadap KPR kami sekitar 5%-10% dari pengajuan baru," ujar Direktur Konsumer dan Ritel BNI Darmadi Sutanto, Senin (28/5).

Ia optimistis nasabah BNI yang berencana mengambil KPR, khususnya yang di atas 70 meter persegi atau di segmen atas tidak akan menunda pembelian melainkan menambah uang mukanya.

Untuk tetap menjaga pertumbuhan di KPR tetap baik, strategi yang dilakukan BNI ialah memperbanyak jaringan dengan pengembang properti. Terutama, pengembang properti di segmen atas.

Selasa, 22 Mei 2012

Obligasi Dolar BNI Oversubscribed hingga 5 Kali


INILAH.COM, Jakarta - Obligasi denominasi dolar AS PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan oversubscribed atau kelebihan permintaan hingga 4-5 kali.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama BNI, Gatot M Suwondo di Jakarta, Selasa (22/5/2012). "Itu (global bond) sudah kita terbitkan. Oversubscribed sampai 4-5 kali lah," ujarnya.

Sebelumnya, sekitar April lalu perseroan telah mengantongi izin resmi dari Bank Indonesia (BI) untuk aksi korporasi penerbitan obligasi global senilai US$500 juta dengan jangka waktu 5-10 tahun.

Penerbitan obligasi global tersebut merupakan salah satu upaya BNI memperbaiki struktur pendanaan dalam valuta asing (valas), khususnya yang menggunakan dolar AS.

Adapun yang bertindak sebagai penjamin emisi adalah Morgan Stanley, Deutsche Bank, Morgan Stanley dan dipimpin BNI Sekuritas. Obligasi ini mengantongi peringkat BBB- dari Fitch Ratings. [hid]

Senin, 21 Mei 2012

Andalkan 4 Produk Baru, BNI AM Bidik Rp7 Triliun


INILAH.COM, Jakarta - PT BNI Asset Management menargetkan dana kelolaan senilai Rp7 triliun pada 2012.

Presiden Direktur PT BNI Asset Management Idhamshah Runizam menuturkan, dana kelolaan mencapai Rp6 triliun hingga April 2012. Pihaknya akan mengeluarkan tiga hingga empat produk baru lagi. "Kami akan menerbitkan produk baru berjenis campuran syariah, saham, dan terproteksi. Kemungkinan kami akan menerbitkan reksa dana campuran syariah pada kuartal ketiga 2012," ujar Idhamshah.

Lebih lanjut ia menuturkan, produk reksa dana yang dimiliki kebanyakan memang reksa dana terproteksi. Sebelumnya sepanjang 2012 ini, pihaknya telah meluncurkan 7 produk reksa dana baru yaitu Reksa Dana BNIAM Proteksi XXV.

Reksa Dana BNIS Proteksi Spektra Rupiah seri II, Reksa Dana BNIS Proteksi Spektra Rupiah Seri III, Reksa dana BNIS Proteksi Spektra Rupiah Seri IV. Reksa Dana BNIS Proteksi Mega Pundi Rupiah Seri II, Reksa Dana BNIS Proteksi Mega Pundi Rupiah Seri III, dan Reksa Dana BNIS Proteksi Mega Pundi Rupiah Seri IV.

"Hingga kini dana kelolaan dari tujuh produk reksa dana tersebut mencapai Rp1,5 triliun," kata Idhamshah. Selain itu, PT BNI Asset Management dan PT Sun Life Financial Indonesia meluncurkan BNI-AM Dana Terencana sebuah reksa dana yang memberikan manfaat asuransi jiwa kepada pemegang unit penyertaan.

Idhamsah mengatakan, pihaknya menargetkan dana kelolaan sebesar Rp150 miliar pada tahun 2012. "Pada tiga tahun ke depan, kami menargetkan dapat memperoleh dana kelolaan sebesar Rp2 triliun dari produk reksa dana BNI-AM Dana Terencana," ujar Idhamshah. [hid]

BNI AM Incar Dana Kelolaan Rp2 T


INILAH.COM, Jakarta - Dalam tiga tahun ke depan, BNI Asset Management menargetkan dapat meraih dana kelolaan sebesar Rp2 triliun dari reksadana BNI AM Terencana.

Presiden Direktur BNI Asset Management, Idhamshah Runizam menjelaskan portofolio reksa dana tersebut, sekitar 5-79% dari total portofolio investasi akan ditempatkan dalam saham, 5-7% pada obligasi dan 2-79% pada instrumen pasar uang.

"Portofolio investasi akan terbagi dalam saham, obligasi, dan instrumen pasar uang yang tentunya akan lebih sulit bila dikelola sendiri oleh investor dengan nilai investasi kecil," katanya dalam peluncuran produk tersebut, Senin (21/5/2012).

Hingga akhir Februari 2012, pihaknya mengelola 34 reksa dana dengan total asset under management (AUM) sebesar Rp6 triliun. Tahun ini perseroan menerbitkan tujuh produk reksa dana baru.

PT BNI Asset Management (BNI AM) menawarkan produk reksa dana baru yaitu BNI AM Dana Terencana dengan manfaat asuransi jiwa yang difasilitasi oleh PT Sun Life Financial Indonesia kepada pemegang unit penyertaan. [hid]

Minggu, 20 Mei 2012

BNI harus Jaga Kualitas Kredit 2012 Sebesar Rp15 T


INILAH.COM, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) harus membuktikan kualitas kredit yang dikucurkan cukup mendukung kinerja tahun ini.

Demikian mengutip hasil riset E Trading Securities, akhir pekan lalu. Selain itu, penerapan manajemen risiko yang baik mutlak diperlukan oleh BBNI dalam ekspansi kreditnya sehingga kualitas kredit yang tercermin pada rasio nonperforming loan (NPL) dapat terkendali.

Alokasi kredit korporasi yang disiapkan BBNI untuk tahun 2012 sebesar Rp10-15 triliun menurut kami merupakan hal yang positif. Dengan alokasi kredit tersebut, diharapkan dapat mendukung pertumbuhan kredit korporasi dan pada gilirannya memberikan kontribusi positif bagi kinerja BBNI ke depannya.

Kredit tersebut mengucur ke BUMN maupun perusahaan swasta. Sedangkan sektor yang diharapkan menggunakan fasilitas kredit BNI seperti sektor infrastruktur, pekerjaan umumm perdagangan serta aneka industri.

Untuk kredit korporasi BBNI pada 2011 mencapai Rp57,6 triliun atau mencapai 35,2% dari total kredit BBNI pada 2011. Dalam catatan 2011, net-NPL dan gross NPL BBNI tercatat masing-masing 0,5 dan 3,6 dari sebelumnya net NPL 1,1 dan gross-NPL pada tahun 2010 tercatat 4,3.

Selasa, 15 Mei 2012

BNI Siapkan Kredit Korporasi hingga Rp15 Triliun


IMQ, Jakarta —  PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyiapkan alokasi (pipeline) kredit korporasi berkisar Rp10-15 triliun untuk tahun ini. Dana ini rencananya disalurkan untuk BUMN dan swasta. 

"Ada sektor infrastruktur, pekerjaan umum, perdagangan, hingga industri lain. Namun, investasi BUMN yang besar-besar saja karena sebagai motor pertumbuhan," ujar Direktur Business Banking BNI Krishna Suparto ditemui usai penandatangan Nota Kesepahaman di Jakarta, Selasa (15/5).

Menurutnya saat ini penyaluran kredit korporasi sudah meningkat menjadi 40%, dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya sekitar 17-18%. Sementara 60% untuk sektor menengah kecil. Untuk jangka menengah, BNI akan meningkatkan kredit untuk ekonomi menengah kecil menjadi 70%, sedangkan 40% untuk kredit keseluruhan.

"Korporasikan pembiayaannya antara tahun kedua, ketiga, atau mereka bisa menerbitkan obligasi atau rights issue," ujarnya.

Diakuinya fasilitas kredit yang tidak dicairkan (undisbursed loan) untuk sektor infrastruktur, ia mengakui kendala utama yang dihadapi oleh perusahaan infrastruktur adalah pembebasan lahan bila ingin membangun jalan tol. Lain halnya dengan PLN di mana membutuhkan jaringan tersambungnya listrik dan gardu. 

"Kan mereka harus meminta izin dari lembaga atau instansi terkait, walau undisbursed loannya sendiri sudah terjadwal," imbuhnya.

Menyoal rencana penerbitan obligasi dolar senilai US$500 juta, ia optimistis permintaan akan baik karena waktu pelaksanaannya tepat. 

"Permintaannya lebih (oversubcribe). Kita juga harus memperhatikan pasar karena ada gonjang-ganjing Eropa. Sekarang ini malah kabar dari JP Morgan," imbuhnya.

Senin, 14 Mei 2012

Kredit BNI ke Krakatau Steel Capai Rp6,1 T


INILAH.COM, Jakarta - Hingga kini, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah menyalurkan fasilitas kredit pembiayaan kepada grup Krakatau Steel senilai Rp6,1 triliun.

Demikian seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (15/5/2012). PT Bank Negara Indonesia Tbk memberikan fasilitas pembiayaan senilai US$100 juta yang terdiri dari tranche A senilai US$100 juta termasuk fasilitas L/C senilai US$50 juta kepada PT Krakatau Steel Tbk.

Adapun total pembiayaan mencapai US$450 kepada PT Krakatau Steel Tbk. Total pembiayaan itu untuk proyek pembangunan pabrik blast furnace complex dengan kapasits produksi 1,2 juta ton hot metal per tahun. Anggota sindikasi lain adalah Bank Mandiri dan BRI.

Direktur Business Banking BNI, Krishna Suparto menuturkan, pemberian fasilitas kredit komersial ini merupakan salah satu bentuk komitmen BNI dan perbankan nasional untuk turut mendukung pembangunan pabrik blast furnace complex.

"Kami berharap dengan fasilitas kredit sindikasi ini dapat memberikan peluang bagi Krakatau Steel untuk membangun pengolahan bijih besi yang dinilai lebih efisien dan memberikan kontribusi yang lebih besar untuk mendukung akselerasi perekonomian nasional," kata Khrisna. [hid]