DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).

Rabu, 13 Juni 2012

Nipress Bidik Pendapatan Tumbuh 30%


IMQ, Jakarta —  PT Nipress Tbk (NIPS) memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sepanjang tahun sekitar 30%, sekitar Rp750 miliar. Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp579,224 miliar.

"Target itu diluar aktivitas kami baru-baru ini. Misalnya, adanya penunjukkan untuk memasok baterai mobil listrik," kata Direktur Operasional Nipress Richard Tandiono dalam perbincangannya dengan IMQ di Jakarta, Rabu (13/6).

Ia mengungkapkan adanya proyek mobil listrik nasional dari pemerintah yang dimulai pada tahun depan ini diperkirakan akan mendongkrak kinerja perseroan pada 2013 mendatang. Namun, ia menegaskan pihaknya belum menghitung berapa kontribusi dari proyek tersebut.

"Saya yakin ada peningkatkan, karena ini adalah barang yang kita jual di luar pendapatan normal perusahaan," ungkapnya.

Richard mengakui saat ini sekitar 60% produksi perseroan diekspor ke 80 negara. Hal itu karena kebutuhan baterai (aki) di luar negeri lebih besar dibandingkan dengan pasar domestik. "Pangsa pasar domestik hanya mewakili 40%," ucapnya.

"Selama ini kita kurang 'terdengar' di dalam negeri. Namun, yang pasti kita akan meningkatkan pasar domestik," paparnya.

Oleh karena itu, Richard mengharapkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Ia mengilustrasikan selama jumlah mobil hanya bertambah 7-8%, maka pendapatan perseroan diperkirakan tidak sejalan (inline) dengan pertumbuhan penjualan mobil tersebut.

Kendati demikian, perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada 2011 masing-masing sebesar 44,48% dan 40,82%, atau mencapai Rp579,224 miliar dan 17,831 miliar. Meningkatnya permintaan dari pelanggan itu berkat berangsur-angsur pulihnya krisis ekonomi global.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar