DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).

Minggu, 10 Juni 2012

Bentoel alokasikan dana belanja Rp 450 miliar


JAKARTA. PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) terus berekspansi. Produsen rokok ini mengalokasikan Rp 450 miliar untuk belanja modal atau capital expenditure (capex) 2012.
Jumlah itu meningkat 29% dari capex 2011. "Secara total, kami mengucurkan capex Rp 1 triliun dalam tiga tahun terakhir," kata Andre Willem Joubert, Direktur RMBA, pekan lalu.
RMBA akan memakai capex untuk beberapa kebutuhan, seperti perbaikan infrastruktur dan teknologi produksi. Perusahaan ini juga akan memperbaiki dan memperluas cabang distribusi di seluruh Indonesia.
Capex tahun ini akan dipenuhi dari kas internal dan dana eksternal. Di akhir Desember 2011, posisi kas dan setara kas RMBA hanya Rp 88,34 miliar. Kebutuhan capex lainnya akan ditutupi dari pinjaman perbankan.
Manajemen RMBA tak menjelaskan dampak ekspansi itu terhadap kinerja keuangan di tahun ini. Pencapaian kinerja RMBA di kuartal I-2012 sebenarnya tak terlalu bagus.
Dari sisi volume, misalnya, RMBA hanya menjual 4,8 miliar batang rokok, menurun 13% dari kuartal I-2011. Pengelola RMBA mengklaim, penurunan volume itu disebabkan kenaikan tarif cukai dan koreksi persediaan barang di pasar.
Penurunan penjualan berimbas ke pendapatan RMBA selama kuartal I-2012, yang stagnan di angka Rp 2,2 triliun. Di sisi lain, RMBA menanggung beban pokok penjualan Rp 1,87 triliun, naik 9% daripada kuartal I-2011. Penyebabnya adalah kenaikan harga cengkeh yang signifikan pada akhir 2011.
Tapi, RMBA optimistis dapat memulihkan kinerja keuangan hingga akhir 2012. Manajemen RMBA yakin, harga cengkeh kembali turun pada semester II, seiring panen cengkeh yang diprediksi melimpah di tahun ini.
RMBA juga akan terus fokus bermain pada segmen premium melalui merek Dunhill. RMBA akan mengerek harga jual rokok secara bertahap untuk mengompensasi kenaikan cukai. Harga RMBA, Jumat (8/6), turun 1,67% ke Rp 590 per saham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar