DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).

Minggu, 10 Juni 2012

Barito Putra sulit mencetak laba


JAKARTA. Ketergantungan terhadap bisnis petrokimia membawa dampak negatif bagi PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Meski kuasi organisasi telah rampung pada akhir tahun lalu, tampaknya BRPT masih sulit mencetak laba.
Senior Vice President Investor Relations BRPT Agustino Sudjono mengatakan, masih sulit memastikan tahun ini BRPT bisa meraih laba bersih. "Krisis utang di Eropa membuat harga petrokimia tertekan," katanya.
BRPT masih menderita rugi cukup tinggi di kuartal-I 2012. Hingga akhir Maret 2012, perusahaan ini membukukan rugi tahun berjalan sebesar Rp 154,35 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, BRPT membukukan laba sebesar Rp 180,33 miliar.
Pada akhir 2011, BRPT juga membukukan rugi bersih tahun berjalan sebesar Rp 368,23 miliar. Namun, dibandingkan rugi tahun 2010, angka ini menurun 50,02% dari posisi Rp 736,85 miliar.
Agustino menjelaskan, sejatinya akhir tahun lalu BRPT meraih untung Rp 25,1 miliar. Namun, aturan baru Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) mengharuskan pemisahan pencatatan penjualan saham anak usaha.
Seperti kita tahu, BRPT menjual PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) ke Siam Cement Group. "Sehingga BRPT jadi merugi,” kata Agustino. Tahun lalu BRPT berhasil menuntgaskan kuasi reorganisasi untuk menghapus saldo laba negatif sebesar Rp 5,76 triliun.
Saldo defisit tersebut merupakan akumulasi dari kerugian BRPT dari tahun-tahun sebelumnya. BRPT mengalami rugi paling besar pada 2000, 2001, dan 2008. Masing-masing sebesar Rp Rp 1,02 triliun, Rp 1,51 triliun, dan Rp 3,4 triliun.
Sebagai holding, selama ini kinerja BRPT bergantung pada anak-anak usaha, di antaranya adalah TPIA dan PT Royal Indo Mandiri (RIM). Sebelumnya, manajemen TPIA menjelaskan, pendapatan perusahaan tahun ini tidak jauh berbeda dengan pendapatan tahun sebelumnya.
Sepanjang 2011, TPIA berhasil mencetak penjualan sebesar US$ 2,2 miliar. Sedang RIM di 2011 mencetak pendapatan sebesar Rp 5,6 miliar. Jumat (8/6), harga BRPT turun 3,51% ke Rp 550 sesaham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar