DISCLAIMER

This research report is prepared by PT MINNA PADI INVESTAMA Tbk for information purposes only and are not to be used or considered as an offer or the solicitation of an offer to sell or to buy or subscribe for securities or other financial instruments. The report has been prepared without regard to individual financial circumstance, need or objective of person to receive it. The securities discussed in this report may not be suitable for all investors. The appropriateness of any particular investment or strategy whether opined on or referred to in this report or otherwise will depend on an investor’s individual circumstance and objective and should be independently evaluated and confirmed by such investor, and, if appropriate, with his professional advisers independently before adoption or implementation (either as is or varied).

Minggu, 10 Juni 2012

Danai capex, ABMM lirik opsi penerbitan obligasi


JAKARTA. Guna mendanai belanja modal 2012 sebesar US$ 335 juta, PT ABM Investama Tbk (ABMM) tengah menggodok opsi obligasi. "Untuk pendanaan memang ada beberapa opsi, seperti pinjaman perbankan dan juga obligasi," kata Sekretaris Perusahaan ABMM Ade Satari saat dijumpai di Jakarta, akhir pekan lalu.

Belanja modal tersebut akan digunakan perseroan untuk membiayai operasional anak usaha ABMM. Jika dirinci, alokasi belanja modal tersebut antara lain digunakan untuk penambangan batubara sebesar US$ 62 juta, unit usaha kontraktor sekira US$ 129 juta, kelistrikan US$ 73 juta, logistik US$ 19 juta, dan sisanya untuk perusahaan.

Sayangnya, Ade enggan mengungkapkan lebih lanjut mengenai berapa dana yang diincar jika perusahaannya mengeluarkan obligasi. Yang jelas semua pendanaan ini bergantung pula pada keberhasilan ABMM dalam mengakuisisi beberapa pembangkit listrik atau powerplant.

Sekadar informasi, anak usaha group Trakindo ini berniat mengakuisisi dua powerplant. Pertama, pembangkit listrik mulut tambang di Aceh dengan nilai akuisisi mencapai US$ 9 juta untuk seluruh kepemilikannya. Kedua, powerplant di Jambi dengan kapasitas 110 MW yang nilainya US$ 85 juta untuk 100% kepemilikan saham. "Tapi di Jambi kami tidak ambil seluruhnya, hanya mau jadi mayoritas saja," tambah Ade.

Nah, jika berhasil melakukan seluruh akuisisi, dana segar yang dibutuhkan ABMM pun cukup besar. Jika sebelumnya manajemen perusahaan sempat menginginkan melakukan pinjaman sebesar 70% dari kebutuhan dana, maka kali ini ABMM pun melirik obligasi sebagai salah satu pendanaan. Sebenarnya untuk pinjaman fasilitas perbankan, ABMM sempat mengaku didekati beberapa perbankan asing dan lokal seperti DBS, Bank Mandiri, ANZ, Standard Chartered.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar